Pengumpan:
Tulisan
Komentar

PCINU Libya Bahas Keindonesiaan Selama Ramadhan

Tripoli_ Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) menggelar diskusi rutin tentang keindonesiaan selama bulan Ramdhan 1431 H. Diskusi ini berawal dari rasa peduli dan prihatin atas berbagai permasalahan yang dialami bangsa Indonesia.

Tema yang diangkat meliputi persoalan keagamaan, sosial, politik, budaya hingga masalah stabilitas keamanan Indonesia. Kesemua tema ini dibahas dalam berbagai sudut pandang kehidupan.
Lanjut Baca »

Nabi Nuh AS, Bapak Kedua Manusia

Oleh: Anas Mas’udi El Malawi

Pendahuluan
Maka aku katakan pada mereka : Mohon ampunlah kepada Tuhanmu! Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan yg deras kepadamu, dan membanyakkan harta serta anak-anakmu, dan (juga) menciptakan untukmu kebun-kebun yg di dalamnya terdapat sungai-sungai (yg mengalir)” (QS. 71 : 10-12).

Dunia adalah rumah ujian bagi umat manusia. Dunia adalah sawah dan ladang aherat. Jika kita menanam kebaikan di dalamnya, kehidupan kita di aherat akan dipenuhi dengan kesenangan dan dihiasi dengan kebahagiaan. Namun jika kita menanam kebathilan dan kemunkaran, akan kita temui kehidupan di aherat sangat panas menyakitkan dan melelahkan, hingga kita kelak berteriak-teriak agar dikembalikan ke dunia dan berjanji akan berbakti pada Tuhan. Lanjut Baca »

Berita Foto

Rapat proker (program kerja) PCI NU libya, 14 agustus 2010 bertepatan dengan 04 Ramadhan 1431 H.
rapat dimulai pukul 01.00 dini hari waktu Tripol, di kamar Sdr. Faishal Hakim dan dihadiri oleh para koordinator Lembaga dan Lajnah.
meski sederhana, alhamdulillah rapat berjalan dengan semestinya dan berhasil menyepakati berbagai program yang akan dilaksanakan oleh PCI NU Libya selama setahun ke depan. Lanjut Baca »

Memahami Penentuan Awal Bulan Hijriyah

Oleh : Sofwan Yahya, Lc

Pendahuluan

Pada dasarnya, tak ada ayat al-qur’an yang menyinggung secara jelas dan spesifik atas metode penentuan awal bulan hijriyah. Yang ada hanyalah panduan umum untuk menggunakan matahari dan bulan sebagai patokan dalam mengetahui perputaran waktu (Al-‘Anam: 96, Yunus: 5, Ar-Rohman: 5). Ayat 185 surat Al-Baqoroh yang diduga sebagai landasan penetapan awal bulan Islam (khususnya bulan Ramadlan) sebenarnya sama sekali tidak menyinggung tentang metode penetuan awal bulan dalam Islam, hal ini sedikitnya karena tiga alasan:

Pertama: Kata شهد dalam bahasa arab tidak mempunyai arti melihat, tetapi ada di tempat atau tidak bepergian. Sementara yang mempunyai arti melihat adalah شاهد dengan tambahan alif setelah syin. Bisa juga kata شهد berarti mengetahui, sehingga artinya mengetahui masuknya bulan Ramadlon.

Kedua: Kalimat selanjutnya yaitu فمن كان منكم مريضا أو على سفر menjadi penguat atas kata شهد dengan arti hadir di tempat. Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »