Oleh: nulibya | MeipmSun, 31 May 2009 23:26:50 +0000UTC31 24, 2007

Libya Mulai Gerakkan Pemuda Dunia.

Setelah sukses mendeklarasikan Ittihad Afriki (persatuan negara afrika) dan menjadi pemimpin negara-negara Afrika kali ini Libya mencoba membuat gerakan baru untuk menangani berbagai permasalahan sosial budaya yang dikhususkan untuk generasi muda seluruh dunia. Gerakan ini dinamai Al Munaddzomat syabab al alamiyah .

Sesuai dengan namanya yang bersifat internasional maka Al Munaddzomat syabab al alamiyah pun diikuti oleh berbagai negara di dunia seperti ; Bosnia, Kosovo, Pakistan, Muritania, Jordan, Maroko, Iraq dan juga beberapa negara di Asia Tenggara seperti Singapore, Malaysia, Philipin dan tak ketinggalan Indonesia yang termasuk sebagai anggota perumus.

Pada konferensi yang digelar pada (27-28/5) kemarin Indonesia mendapat undangan delapan delegasi yang dua diantaranya adalah anggota PCI NU Libya yaitu Tian Kamaludin (Pati-Jateng) dan M.Isa Gozi Rantau (Jakarta).

‘’Berpijak dari ancaman yang membayang-bayangi generasi muda khusunya generasi muda islam serta konflik sosial budaya maka akhirnya muncullah ide pembentukan munadzzomat syabab alamiyah ini’’ begitu seperti yang diutarakan oleh Muhammad salah seorang yang menjadi motor pergerakan ini ketika ditemui oleh reporter PCINU Libya sesaat setelah acara digelar, Kamis (28/5).

Acara yang digelar di gedung permusyawaratan Libya ini diawali dengan pematangan tujuan dan berbagai anggaran dasar sebelum nantinya disahkan oleh pemerintah pada Mu’tamar Aam dan akhirnya ditutup dengan pembacaan pesan tertulis dari presiden Libya yang berisikan pesan penyemangat dan nasehat.

Oleh: nulibya | AprpmWed, 29 Apr 2009 21:41:26 +0000UTC30 24, 2007

Pengebirian Berkedok Purifikasi

A. Muntaha Afandie *)
Kerukunan beragama di negeri itu mulai pudar. Keseharian umat Islam yang awalnya rukun berubah menjadi pertumpahan darah. Apa penyebabnya? Kenapa umat yang mempercayai nabi dan Tuhan yang sama sampai menghunus pedang di medan perang? Permukaan bumi pun terpaksa kembali meminum darah umat yang mengimani satu Kitab Suci.

Kejadian itu dalam sejarah diabadikan dengan nama Perang Paderi. Sejarah menjadi saksi bisu meletupnya perang tersebut karena jiwa keislaman kaum adat merasa diciderai oleh tiga orang dai—Haji Miskin, Haji Piobang, Haji Sumanik—yang menjejalkan jargon ”Kembali kepada Allah” di Minangkabau.
Doktrin itu masyhur dengan nama wahabi. Sekte yang mengajak pada ”pemurnian” Islam: semua berlandaskan pada Alquran dan Alhdits an sich. Hal-ihwal dalam beribadat yang tidak berlandaskan pada kedua sumber hukum Islam tersebut bidah, khurafat, dan syirik.
Kita semakin sulit untuk menyangkal adanya wahabisasi Islam Indonesisa, setelah badai reformasi meruntuhkan status quo Orde Baru. Pengusiran Gus Dur (23/5/2006) dari Forum Lintas Etnis dan Agama di Purwakarta oleh FPI, HTI, dan Forum Umat Islam menjadi preseden buruk yang tak bisa terlupakan bahwa ruh Islam yang rahmatan lil alamin tercabik oleh ”kebenaran” golongon.
Menurut Abd Moqsith Ghazali ada empat agenda utama ”Wahabisassi Islam-Indonesia” (www.islamlib.com, 06/02/2006) agar negara ini menjadi repetisi Saudi Arabia. Pertama, mempersoalkan Pancasila dan UUD ’45 karena bukan ijtihad Tuhan, tapi manusia. Kedua, penolakan sistem demokrasi yang dianggap sekuler. Ketiga, perjuangan legalisasi syariat Islam yang lebih bersifat partikular. Dan, keempat, penyangkalan terhadap tradisi dan adat-istiadat.
Meskipun mengklaim hanya bepegang pada Alquran dan Alsunnah, fakta lapangan hanya sabda nabi yang sesuai dengan paham mereka yang diakui. Mana kala substansi hadits berlawanan tidak segan men-dhoa’ifkannya bahkan menolak riwayat hadits shahih sekalipun. Selain itu, berbohong saat berdebat pun mendapatkan legalitas. Bahkan wahabi sendiri sebenarnya ahli bidah. Dan, doktrin wahabi—dalam beberapa keyakinan—memiliki keserupaan dengan khawarij yang berpegang kaku pada hokum Tuhan. Misalnya, khawarij menentang arbirtase Ali-Muawiyyah. Perspektif sekte terakhir tidak ada pelaksanaan hukum kecuali Allah. Begitu juga dengan wahabi yang gampang mengkafirkan ritual yang—klaim mereka—tidak ada cantolan hukumnya, lagi-lagi, Alquran dan Alsunnah: berdoa, syafaat, tawsasul, istighotsah, dll. Harus langsung ”koneksinya” pada Allah. Syirik bila melalui mediator (Al Kutsairi, Sayed Mohamad. Al Salafiyyah: Baina Ahl Sunnah wa Al Imamah, 1997).
Maka dari itu, tidak heran bila setahun lalu terbit sebuah buku yang sarat dengan fitnah, dan kering dari substansi ilmiah. Adalah Mahrus Ali si penulis yang mengaku nahdliyyin ”murtad” itu. Murtad dalam arti dari ”aktifis” tahlilan dan lain sebagainnya, kini menggugat habis keyakinan lamanya—terlepas dari benarkah dia seorang NU atau bukan. Dalam Mantan Kiai NU Menggugat Shalawat dan Dzikri Syirik, Mahrus merekomendasikan tidak bermazhab. Ia juga meyakinkan pembacanya bahwa memahi Alquran atau sabda nabi tidak perlu—bahkan harus meninggalkan—penafsiran ulama karena taklid pada ulama adalah salah satu dari bentuk kesyirikan. Ironisnya, demi bisa menyakinkan pembacanya, ia memalsukan dalil-dalil dan (yang memalukan) salah mengutip nama seorang ulama. Lebih ironis lagi, setelah ”mbulet” mengajak kaum muslimin meninggalkan mazhab, Mahrus malah menyeret mereka pada taklid buta terhadap imam-imam wahabi. kontradiktif. Bukankah ini bidah yang paling nyata, ustaz?
Disadari atau tidak, menurut Sayed Sabiq, taklid buta adalah penghalang utama bagi kemajuan umat manusia.

Pesantren sebagai Benteng Terakhir
Ruh Islam yang rahmatan lil alamin hanya bisa terjaga bila mengakulturasi budaya dan adat-istiadat. Kesuksesan wali nan sembilan menjadi bukti bahwa Islam yang toleran akan mendapatkan sambutan yang baik: berapa raja tanah Jawa Dwipa yang rela pindah keyakinan karena kelembutan dakwah wali nan sembilan? Berapa orang mengucapkan syahadat hanya untuk menyaksikan penampilan wayang kulit Sunan Kali Jaga? Sebaliknya, dakwah yang kaku, alih-alih mempurifikasi agama, malah mengebiri ruh Islam yang rahmatan lil alamin. Belum cukupkah Perang Paderi dijadikan sebagai bukti akibat upaya pemasungan dan pemberantasan kreasi-kreasi kebudayaan lokal dipandang bid’ah, takhayul, dan khurafat oleh dai-dai wahabi yang saya sebutkan di awal, misalnya. Bila kita mau membuka lembaran sejarah, penyebaran wahabi sendiri—oleh pendirinya—diwarnai merahnya darah karena kekakuannya.
Berbeda dengan para sunan yang lebih memilih ”meleburkan” Islam ke dalam psikologis masyarakat Jawa. ”… dalam memperkenalkan orang Jawa terhadap keindahan dan kebesaran beragama, Sunan Kalijaga mengacu alam pikiran Jawa masa itu,” tulis Achmad Chodjim (Chadjim, Achmad. Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga, 2003).
Dalam konteks kekinian dan kedisinian Indonesia, satu-satunya ormas yang melestarikan metode dakwah wali sanga adalah Nahdlatul Ulama. Ini bisa kita lacak dari jargon kalangan nahdliyyin: al muhafadlatu ‘ala al qadimi al shalih wa al akhdlu bi al jadid al ashlah.
Pesantren sebagai basis utama NU memegang tanggung jawab moral dan tantangan yang besar. Tanggung jawab melestarikan metode dakwah kesembilan wali itu dan tantangan meracik ulang ”menu” lama mereka yang masih layak dengan ”bumbu” baru yang lebih maslahat agar tetap terasa lezat; sebagaiman jargon tersebut. Dengan demikian, insyaallah, masyarakat lebih melirik ke NU dari pada buaian ”Kembali kepada Tuhan.” Dan, umat pun terselamatkan.
Dalam pada itu, pesantren juga harus membekali santri-santrinya dengan ke-NU-an yang matang, berikut ke-aswaja-an yang mendalam. Satu perkara yang terkadang kurang diperhatikan oleh pesantren adalah kurangnya membekali peserta didiknya dengan dalil-dalil ritual yang selalu menjadi sorotan. Misalnya, tawasul, tahlil, dll. Kalaupun ada, masih sederhana. Padahal sangat urgen memahami dan mengetahui dalil-dalil tersebut. Selain berguna bagi para santri secara pribadi, juga bermanfaat secara sosial. Santri hanya disibukkan dengan masalah ubudiyyah-mu’amalah (fikih) tanpa ada usaha untuk mengajak mereka mendalami sumber-sumber ubudiyyah-mu’amalah itu sendiri. Padahal ritual-ritual itulah yang tidak pernah berhenti diserang oleh wahabisme—atau lebih tepatnya neo-wahabi. Salah satunya—kembali saya mengutip nama—Mahrus Ali. Seyogianya bagi kalangan nahdliyyin mulai berbenah diri.
Menurut hemat saya, sudah saatnya pengasuh-pengasuh pesantren duduk bersama merumuskan kurikulum aswaja dan ke-NU-an secara mendalam, bukan hanya secara parsial seperti diterapkan di beberapa pesantren selama ini.
Kang-kang santri, di tangan kalianlah umat Islam Indonesia bisa selamat dari wahabisasi yang formatnya sudah disusun rapi di Arab Saudi. Menghadapinya pun perlu format yang mantap.
Apa jadinya agama akulturatif ini tanpa mentoleransi budaya dan adat-istiadat?

*) Aktivis tahlilan dan ziarah kubur ini pernah nyantri dan mendedikasikan diri pada majalah Misykat Ponpes Lirboyo, Kediri. Saat ini sedang studi di Libya dan mendapatkan amanah sebagai ketua LTN PCI NU Libya, pemred Sahara dan Al Ukhuwah. Lebih lengkap klik: www.achmadmuntaha.co.cc. kontak person: santrimbeling[at]achmadmuntaha[dot]co[dot]cc.

Sumber: Milenia Aswaja, edisi II, April 2009

Oleh: nulibya | ApramWed, 08 Apr 2009 04:19:08 +0000UTC30 24, 2007

PENGURUS CABANG ISTIMEWA NAHDLATUL ULAMA LIBYA
PERIODE 2008-2010

SURAT EDARAN
Nomor: 12/B/PCINULIBYA/III/2009

Tentang:
B A Y A N S I Y A S I
PENGURUS CABANG ISTIMEWA NAHDLATUL ULAMA LIBYA

Bismillahirrahmanirrahim

Sesuai hasil rapat gabungan yang diadakan antara Dewan Syuriah dan Dewan Tanfidziyah tertanggal pada Jumat, 20 Maret 2009, dalam rangka menyikapi dan ikut turut serta mensukseskan pemilihan umum Republik Indonesia 2009, pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Libya perlu menyampaikan hal-hal sebagai berikut:

1. Mendukung terlaksananya Pemilu yang jujur, adil, bebas, transparan, dan demokratis demi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.

2. Mengimbau kepada seluruh warga Nahdlatul Ulama di Libya khususnya dan warga Negara Indonesia di Libya umumnya agar menggunakan hak pilihnya sesuai dengan hati nurani dan pilihannya masing-masing.

3. Menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyyah secara organisatoris tidak terikat dengan organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan manapun juga.

4. Mengimbau secara khusus kepada warga NU Libya agar tetap mempertahankan keutuhan serta kesatuan Nahdlatul Ulama (wahdah nahdliyyah) dan tidak terpecah-belah karena perbedaan pilihan politik pada Pemilu 2009.

Demikian, agar menjadi maklum.

Ditetapkan di: Tripoli
Pada tanggal: 20 Maret 2009

Mengetahui,
Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Libya
Periode 2008-2010

Nasbin Panyahatan, Lc (Rais Syuriah)
Harun Al-Rasyid, Lc (Katib Syuriah)
Nasrullah Sudirman (Rais Tanfidziyah)
Ahmad As’ad (Sekretaris)

Oleh: nulibya | NoppmSun, 30 Nov 2008 21:46:06 +0000UTC30 24, 2007

Menggapai Hikmah dari Kisah Qur’aniy

Oleh: Aminah Muhit

Alquran yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw melalui malaikat Jibril ‘alaihissalam merupakan kitab suci bagi umat Islam di seluruh belahan dunia. Alquran juga menyempurnakan kitab-kitab suci yang telah diwahyukan kepada para nabi sebelum Muhammad Saw. Setiap hamba yang menempuh perjalanan menuju Allah Swt tidak akan pernah sampai pada tujuannya tanpa petunjuk Alquran, dan Alquran secara sistematik disusun oleh Dia Yang Maha Agung agar mudah dimengerti dan dipahami. Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori