Artikel Oleh : Moch. Syamsuddin AM
Dalam upaya mengenang tokoh terbesar dalam sebuah golongan, kita sering menemukan berbagai peringatan-peringatan yang diselenggarakan untuk mengenang jasa dan meneladani tindak lampahnya. Contoh kecilnya, di negara kita Indonesia, terdapat sebuah peringatan kelahiran Ibu Kartini, Hari Pahlawan untuk mengenang jasa para pahlawan dan peringatan-peringatan lainnya yang dijadikan sebagai hari besar negara.
Nabi Muhammad SAW, sebagai utusan Allah ke muka bumi ini, yang dengan dakwahnya, kita dapat merasakan nikmat iman dan islam merupakan sebuah tokoh yang seharusnya lebih berhak untuk diteladani dan dikenang jasa-jasanya. Maulid Nabi Muhammad (hari Kelahiran Nabi Muhammad) tentunya lebih pantas diperingati oleh umat Islam dari pada hari kelahiran Ibu Kartini, hari ulang tahun kita sendiri (Ultah) atau yang lainnya yang jelas-jelas kepribadian dan kedudukan beliau tidak sebanding dengan umatnya.
Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW merupakan sebuah “kasus” dari sekian banyak “kasus” yang sering menjadi sasaran pembid’ahan oleh kelompok-kelompok tertentu. Dengan sebuah dalil bahwa peringatan semacam itu tidak pernah ada di zaman Nabi. Man Ahdatsa fi Amrina Hadza Ma Laisa minhu fahuwa Roddun – Khoirul Hadits Kitabullah wa Khoirul Hadyi Hadyu Muhammadin Wa Syarrul Umur Muhdatsatuha wa kullu Bid’atin Dlolalah Wa Kullu Dlolalatin Fin Nar.
Klaim bid’ah terhadap sebuah golongan atau individu yang memperingati maulid merupakan sebuah “lagu lama” yang tidak bisa dihindari. Hal itu bersumber dari pemahaman sebuah hadits Nabi yang sering dibaca oleh para khatib dan penceramah di setiap prolognya. Dari pemahaman terhadap nash tersebut, akhirnya muncullah berbagai pendapat yang berlawanan. Dalam Fiqh Ikhtilaf (Fiqh Perbedaan), dikatakan bahwa salah satu penyebab terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah perbedaan pandangan dalam memahami sebuah nash. Jadi pantas kalau dalam memahami hadist bid’ah tersebut terjadilah perbedaan pendapat antar ulama.
Dalam hal ini, ada sebagian yang berpendapat bahwa Bid’ah ada yang hasanah (baik) dan sayyiah (jelek). Pendapat ini banyak menuai kritikan, bahkan ada yang menuduh bahwa pendapat itu merupakan pendapat yang menyesatkan, sebab telah menyalai dan menyimpang dari sabda Nabi SAW yang dikatakan secara jelas bahwa “ kullu Bid’atin Dlolalah” setiap bid’ah adalah dlolalah (sesat).
Namun anehnya, di satu kesempatan, sebagian yang lain berpendapat dan mengklaim bahwa pendapatnya merupakan sebuah solusi dari sekian pendapat masalah bid’ah yang ada. Tidak mengakui pembagian bid’ah hasanah dan sayyi’ah namun berpendapat dan memakai istilah lain, yaitu bahwa bid’ah ada yang bersifat diniyah (agama) dan ada yang bersifat dunyawiyah (dunia). Ketika mereka tidak menerima dan mengatakan bahwa pembagian bid’ah ada yang hasanah dan sayyiah adalah sebuah kebid’ahan karena tidak bersumber dari syari’, maka pembagian bid’ah dunyawiyah dan diniyah juga merupakan sebuah kebid’ahan bahkan lebih bid’ah daripada apa yang mereka tuduhkan.
Terlepas dari itu, Maulid nabi Muhammad SAW adalah sebuah fenomena yang masih tetap diperbincangkan masalah hukum memperingatinya. Bagi golongan yang mengatakan bahwa peringatan maulid hanyalah kegiatan biasa untuk menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual (ibadah) sehingga dapat dikategorikan bid`ah hasanah dan bukan bid’ah yang terlarang, sampai kini mereka tetap eksis menyelenggarakan peringatan maulid Nabi setiap tahun.
Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia mungkin bisa dijadikan contoh dalam masalah maulid. Ormas-ormas yang ada pun juga berbeda pandangan dalam hukum memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.Ada yang menerima dan memperingatinya seperti Nahdlatul Ulama’ dan ormas-ormas yang sependapatnya dan juga ada yang menentangnya dan mengatakan bahwa peringatan maulid adalah bid’ah.
Ada sebuah kejanggalan yang kiranya perlu penulis kemukakan dalam tulisan ini. Peringatan Maulid Nabi sudah tidak asing lagi dalam kehidupan warga Nahdliyyin, walaupun ada sebagian golongan yang mengkalim bahwa apa yang dilakukan oleh Nahdliyyin adalah bid’ah, namun peringatan maulid tetap diselenggrakan dengan berbagai acara yang amat variatif.
Pada tahun ini, 1428 H, Libya untuk yang kedua kalinya mengundang ormas-ormas dan tokoh-tokoh Islam sedunia untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan di Nigeria. Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia juga mendapatkan undangan. Dalam kesempatan kali ini, Indonesia diwakili oleh 13 delegasi dari berbagai ormas yang ada. NU sebagai salah satu ormas yang mau merayakan maulid juga mengirimkan delegasinya, namun anehnya, golongan-goongan lain yang sementara ini berseberangan dengan NU dalam masalah Maulid dan sering membid’ah-bid’ahkan warga nahdliyyin dalam memperingati Maulid juga turut hadir dalam peringatan Maulid yang diselenggarakan oleh negeri hijau itu.
What’s up?. Apakah kini pemahaman mereka tentang bid’ah sudah ada perubahan ?. Apakah kini maulid menurut mereka bukan termasuk bid’ah karena disesuaikan dengan zaman ? atau karena diundang oleh luar negeri sehingga sedikit kendor dalam mengawal pemahaman mereka selama ini ? atau karena dapat tiket pesawat dan uang saku sehingga tidak ada bid’ah lagi ? Wallahu A’lam.
Assalamualaikum wr wb
Met kenal wahai warga Nahdliyin yang di muliakan oleh Allah swt. Maaf mau negnalin penyakit TBC nech…. [Tahayul, Bid'ah, Churafat]. sebarin yach.. tapi hati-hati jangan kena TBC beneran loh…
ass.. mas wawan,,,yg moga dirahmati Alloh,,,.
woh…keren tu penyakitnya,,,dah ada vaksin ato obat u nyembuhinya,,,
bagi2 donk resep dokternya,,,biar kita bisa saling berbagi nih,,, cos kite juga poenya tabib yg juga ngasih resep nie..
ok dah .. maksih
wedew…..yaa begini ni yang nyebabkan hancurnya islam kita..Islam itu luas mas, gak hanya NU, MU, Persis dll….kalo mereka mo buat apa aja yaaa biarkan lah…..biarkan berkreasi. Yang penting kita rukun…
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Saya sebagai warga NU dan aktif berdiskusi di kalangan Eksekutif dan Pejabat dibeberapa instansi yang pada umumnya generasi di atas saya sering kali menanyakan tentang beragam Bid’ah yang ditujukan kepada kelompok kita (NU). Sebagai orang awam saya hanya memberikan pandangan-pandangan secara umum tentang ibadah dan tentang perlakuan hormat kepada diri kita sendiri, orang tua, para ulama terlebih kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW.
Karena saya meyakini dalam hati kecil ini, bila kita menghormati yang saya sebutkan di atas Insya Allah kebaikanlah yang akan kita dapatkan, dan bila kebaikan yang kita dapatkan mengapa harus kita perdebatkan?
Apabila para wali dan ulama terdahulu salah memberikan pengajaran pada kita saya yakin dan seyakin-yakinya Allah akan meluruskan dengan caranya. Dan apabila kesalahan itu fatal seyakin-yakinya pula para waliullah dan ulama terdahulu tidak akan membawa keberkahan sampai hari dan akhir zaman. Dan bukti berkah itu masih kita rasakan sampai hari ini. Mudah-mudahan saya tidak salah, dan bila salah mohon petunjuk.
Wa’alaikumsalam Wr. Wb.
assalamu’alaikum
saudara ku seandai nya perbuatan itu baik tentulah para sahabat,tabiin,tabiut tabiin telah mengerjakan perbuatan tersebut.apakah mereka prnh mengerjakan nya? saudaraku mereka2 adalah orang2 yang paling mengerti,paham dan paling sempurna kecintaan nya pada rasulluallah,contoh lain adalah tahlilan apakah mereka mengerjakannya? bahkan apa kah ketika cucu2,istri ,paman,atau sahabat2 rasull meninggal rusull mengadakan tahlilan!? tidak! tidak pernah ada sejarah nya atau hadis yang sahih tentang tahlilan? renungkan lah itu saudara2 ku
wa’alaikumsalam
assalamu’alaikum….
saya setuju dengan pendapat saudara yudha,
sedikit menambahi,karena agama qta adalah agama yang sudah sempurna, jadi tidak perlu lagi ada penambahan…
dan menanggapi masalah gratisan tadi, apakh itu tidak termasuk suudzon?
bisa saja mereka hadir karena untuk menghormati undangan? bukankah menghadiri undangan hukumnya wajib?
perbedaan mengenai persepsi tentang makna bid’ah mungkin ini hanya faktor pendefinisian dan pemaknaan suatu hadits, siapapun dan apapun golongannya tidak boleh mengklaim bahwa dirinya yang benar sedang yang lain salah, karena kebenaran hanya mutlak milik Allah swt semata
Maaf kepada seluruh pembaca,
saya tidak akan mengomentari pendapat-pendapat tsb, tetapi barangkali ini bisa menjadi renungan juga buat kita……bahwa maulid, tahlilan dsb itu adalah hal yg elementer bukan prinsip didlm agama tapi justru yg terpenting adalah SUDAH SELAMATKAH KITA DARI DIRI KITA SENDIRI ????
Ingatlah wahai saudara-saudaraku….
Bahwa Allah hanya melihat TAQWA kita, artinya yg sadar, sadar akan dirinya dan tuhannya, apakah sudah benar diri kita terhadap Allah……???
marilah saudara2-ku kita berjabat tangan, bergandengan dlm menuju hanya kepada Allah, jg permasalahkan hal2 yg elementer, biarkanlah kepada keyakinannya masing2 dlm berekspresi asal tdk keluar dari jalur rukun islam dan iman.
Dan saya sangat setuju didlm bait terakhir tulisan mba Tia :”…. siapapun dan apapun golongannya tidak boleh mengklaim bahwa dirinya yang benar sedang yang lain, salah, karena kebenaran hanya mutlak milik Allah swt semata”.
Maafkanlah saya ……….dan kritiklah saya
air ini mengalir dari hulu ke hilir kalo kota bicara kemurnian ya di hulu demikian pula dengan agama semakin jauh dari Nabi kemurnian agama semakin keruh bercampur dengan bid’ah , khurafat dan Tahayyul sudahlah kembalikan kepada kita masing 2 sudah melaksanakan ajaran Rasulullah apa belum apa sudah sesuai dengan petunjukNya sesuai dengan hadist yang telah rasulullah sabdakan. berlanjut
Sahabatku se iman,
Mencintai Rosulullah SAW adalah dg mengamalkan sunah2nya. Amalan sunah berdasar hadis yg soheh saja sungguh belum tentu kita mampu laksanakan semua. Dari bangun tidur sampai kita tidur lagi sangat luas amalan sunah, yg salah satu esensinya adalah bukti kita cinta kepada Rosulullah SAW.
Menerima atau tdk menerima perbedaan seyogyanya tidak dengan hawa napsu tapi semata mencari ridha Allah SWT. Al-Qur’an dan Hadist Shahih adalah sebaik-baik tempat kita kembali dalam perbedaan.
Mencari dan memahami ilmu semata-mata untuk mencocokan amal kita dengan ilmu, bukan mencari ilmu yang cocok dengan amal kita.
Jika amal kita cocok dg hadist yg sahih.. Alhamdulilah, jika sebaliknya kita hrs ihklas meninggalkannya.
Semoga…
kalo membuat madrasah baik membuat pesantren bermanfaat tentunya nabi dan para sahabtnya akan membuatnya dunk, klo nggakk berarti bid’ah dunk, n org2 yg sklh msk neraka semua dunk
emang repot kalo semuanya di cap “BID’AH”… jangan-jangan ntar makan combro aja dibilang BID’AH
ini bid,ah itu bid,ah saudara gampang banget bilang bid,ah, taukah anda pertama kali yang mengumandangkan adzan iyalah bilal itu pun Rasulallah tidak menyuruh nya dan tidak ada hadits nya. Al qur,an yang kita baca zaman Rasulallah pun tidak menganjurkan untuk di tulis di buku.lalu kenapa kalian menggampangkan bilang bid,ah kepada kelompok lain.jangan jangan kalian jarang sholat atau baca Al qur,an
ane yakin orang yang mengatakan bid’ah pada kebaikan itu masih dangkal pengetahuan ilmu dienul islamnya