oleh : Nayli Zulfa*
Hello namaku “Anggun Elizabeth Regina” mahasisiwi fakultas hukum di salah satu PTN ternama di Ibukota. Sebenarnya nama asliku yang tercatat dalam akte kelahiran tertulis “Anggun Raharjo” namun sengaja kuhilangkan nama Raharjo -lelaki yang menyebabkanku terlahir di dunia ini- lalu menggantinya dengan “Elizabeth Regina”. Pilihanku pada nama inipun ada alasan tersendiri, biar nanti sajalah kuceritakan.
Kita kembali lagi ke Raharjo. Nama “Raharjo” ku buang ke tong sampah, tidak lain karena aku benci padanya. Memang secara de jure, aku adalah anak kandungnya, karena aku ini memang anak biologisnya. Tapi secara de facto, of course not!, yang ada dalam kamus hidukpu adalah Ibu..Ibu..dan Ibu..! Membiarkan namanya menempel di belakang namaku sama dengan menempelkan barang najis di belakang namaku…duuh please dech!..ups sorry..! really sory..! yach… memang begitulah kenyatannya! Ada sebuah adagium yang menyatakan “tak ada asap kalau tak ada api”. Lelaki itu sendiri yang menyebabkan timbulnya virus kebencianku padanya.
Ok…akan kujelaskan mengapa aku sampai begitu benci padanya, kurang lebih begini kisahnya. Saat usiaku 1 tahun, Raharjo keluar rumah tanpa pamit meninggalkanku dan Ibuku, dengan membawa segala materiil yang dimilikinya, hanya karena ingin menuruti syahwatnya menikahi “mantan selingkuhannya” yang sedang berbadan dua disebabkan oleh petualangan cinta mereka. Alhasil, pernikahan kedua Raharjo ini berstatus “MBA”.
Bertahun-tahun dia meninggalkan kami sebatang kara. Ibuku yang hanya penjual gorengan di pasar, harus bekerja serabutan agar dapur kami tetap mengepul. Segala profesi mulai dari tukang cuci piring, baju, pembantu RT, pelayan restoran, samapi jadi tukang sapu jalan raya pun dia pernah. Sedangkan aku ?, aku harus mengorbankan masa kecilku dengan menjual jajanan di pasar dengan Ibu. Sesekali aku diajak mengamen oleh teman sepermainanku dengan menggunakan tutup-tutup botol sosro, sprite, fanta atau yang lain, yang kutemukan dari tepat sampah. Beruntung aku mempunyai Ibu yang superhero, dia sangat ulet bekerja, kuat, sabar dan tegar di balik kelemahannya sebagai wanita, tak terpuruk menghadapi penghianatan sang suami. Berkat kerja kerasnya, kami tetap bisa survive dengan hasil catering yang dirintaisnya. Ilmu catering dia dapatkan ketika menjadi pelayan restoran di restonya “Cik Mei Mei”.
Singkat cerita kurang lebih 5 tahun kemudian, tiba-tiba Rahrjo datang ke rumah, entah angin apa yang membawanya, yang jelas bukan angin sepoi-sepoi. Kesempatan inipun tak disia-siakan oleh Ibu. Ibu memberondong Raharjo dengan berbagai pertanyaan atas kepergian dan unresponsible-nya menelantarkan kami bertahun-tahun, serta menikahi wanita lain tanpa memberitahu Ibu. Semua itu dituturkannya dengan nada getir namun tegas. Dengan wajah innocent, Raharjo mengatakan bahwa agama tidak melarang umatnya berpoligami, kenapa Ibu mesti ribut ?, huh…enak saja dia memakai dalil matsna….wa tsulatsa…. terpotong-potong, dan menginterpretasikannya sesuai pemahaman bodohnya hanya karena ingin melegitimasi poligami yang menurutnya sah-sah saja! Yah… maklum saja pemikiran Raharjo yang masih setingkat alif…ba…ta seperti itu, ya… sama dengan suami-suami lain yang dengan entengnya memakai dalil-dalil agama hanya untuk menuruti syahwatnya saja, “tak ada angin tak ada hujan” asal kawin lagi aja! Mending kalau memang ada angin atau hujan, apalagi kalau anginnya angin topan misalnya atau hujan disertai badai dan petir yang saling beradu. Ini gak ada apa-apa eh…poligami segala! Apalagi si Raharjo itu telah menelantarkan kami tanpa nafkah lahir batin, MBA pula! busyet !.
Kalau masalah menelantarkan kami tanpa nafkah, dia berkelit bahwa toh tanpa kehadirannya, kami berdua masih bisa tetap menghirup udara dunia. Ibuku hanya bisa menekan kuat-kuat perasaannya mendengar semua ungkapan duplik Raharjo. Dia berusaha menahan gelegak amarah yang membuncah dalam dadanya agar tak meledak. Dia tak habis pikir, bagaimana mungkin sosok lelaki yang menyimpan lebih banyak otot daripada lemak dalam tubuhnya, yang kini berada tepat dihadapannya ini adalah suaminya! apakah ini mimpi? dia sangat berharap ini sebuah mimpi belaka, namun percuma saja, hanya realita yang ia temui. Diapun sadar, semuanya telah berakhir! Lelaki yang dulu selalu dipujanya itu, kini telah berubah menjadi sosok orang asing yang sama sekali tak dikenalnya.
Setelah selesai beradu argumen dengan Ibu, Raharjo mengatakan bahwa maksud kedatangannya adalah ingin menceraikan Ibu saat itu juga. Dia pun menunjukkan berkas-berkas perceraian yang harus ditandatangani. Dengan tatapan nanat memerah, Ibu menatap kertas-kertas itu. Sedetik kemudian, Ibu mengiyakan apa yang Raharjo mau. Ibuku bersyukur dapat melepas rantai-rantai yang mebelenggunya, baginya perceraian ini adalah blessing in disguire . Setelah selesai dengan hajatnya, Raharjo pamit pulang ke rumah bininya. Namun naas, rupanya Tuhan tidak rela melihat hambanya terdzolimi. Dalam perjalanan pulang, Raharjo mengalami kecelakaan dihantam truk hingga meninggal dunia. Aku sama sekali tak bersedih ketika dia meninggal. Namun Ibu pingsan seketika ketika mendengar kabar kematian kekasihnya. Menurtku tak ada gunanya menangisi kepergiannya, toh dia sendiri yang mengatakan bahwa ada dan tidak adanya sama bagi kami. Akhirnya aku pun berubah status menjadi anak yatim, kenyataan pahit yang ku alami disebabkan perbuatan Raharjo membuatku menjadi sosok pembenci lelaki.
Kebencianku terhadap lelaki semakin memuncak ketika aku pernah menjadi korban asusila sekaligus “crime againts humanity” , tepat sebulan setalah kematian Raharjo. Jiwaku terguncang hebat selama beberapa bulan. Ibuku sempat stress menghadapi kenyataan yang ku alami. Namun kesabaran dan ketegarannya mengalahkan semua. Dia tetap berusaha menopang dirinya di atas dua kaki yang semakin rapuh dimakan usia. Meski masyarakat banyak yang bersimpatik atas kejadian yang kualami. Namun banyak juga yang mencibir. Aku sempat menuai cap “sampah masyarakat” sungguh menyakitkan! Meskipun begitu kasih sayang Ibu makin tercurah begitu besar kepadaku. Curahan kasih sayangnya yang begitu besar termasuk obat penenang jiwaku. Beberapa bulan kemuadian akupun kembali normal setelah mendapat pengobatan ruhani dari sebuah pesantren yang terletak di dekat tempat tinggalku.
Meski peristiwa itu sama sekali tak meninggalkan benih janin di rahimku, namun tetap saja sisa-sisa ingatan suram itu melekat di memori otakku. Sampai aku beranjak dewasa seperti saat inipun, bayangan keparat itu kadang-kadang berkelebat di di kepalaku seakan-akan menampar keras wajahku. Untung saja keparat itu sudah mati akibat dihajar masa di hari yang sama setelah terendus masyarakat bahwa dia yang telah merenggut kehormatanku. Kalau saja saat itu dia masih hidup akan ku bunuh dan ku cincang tubuhnya, lalu ku bagikan potongan-potongan tubuhnya pada anjing-anjing kelaparan! Meski hukuman itu tak akan pernah mengembalikan harga diri, kehormatan dan kebahagianku yang hilang.
Aku selalu berdoa pada Tuhan agar melenyapkan ingatan suram itu dari kepalaku. Namun tetap saja tidak bisa! Apalagi jika kebetulan aku mendapati berita kasus kriminal tabu dan kekerasan terhadap anak-anak di berbagai media massa, seketika berita-berita itu memicu adrenalin dalam tubuhku memuncak, otakku mendidih, jantungku berdegup kencang, virus kebencianku menjalar, spersekian detik aku menjadi gila, trauma itu selalu manghantuiku. Ketika terbesit ide gila dalam pikiranku, untuk membenturkan kepalaku ke arah dinding, berharap agar aku mengidap amnesia dan bisa memulai hidup baru tanpa ditakuti oleh bayangan keparat itu.
Dua catatan dalam hidupku itulah yang membuatku menjadi sosok pribadi beridiosinkrasi keras dan pendendam. Akupun stereotip terhadap laki-laki. Setiap lelaki yang melecehkan wanita, aku anggap sama saja dengan Raharjo atau keparat itu. Namun di sisi lain, justru pengalaman pahit yang terjadi dalam hidupku itu menstimulusku untuk memilih jurusan hukum sabagai salah satu jalan yang turut meramaikan peta hidupku. Pilihan ini pula yang menyebabkan aku menjadi sosok yang berbookaholic hukum, termasuk di dalamnya novel-novel hukum karya novelis Amerika John Gisham, yang biasanya ku beli dari hasil royalti beberapa tulisanku yang termuat di beberapa media massa. Lagi-lagi hoby positifku ini berkat “jasa” kedua iblis itu. Merekalah yang berjasa besar memacuku berbookaholic karya-karya John Gisham.
Novel-novel John Gisham yang biasa disebut “hamba hukum” dengan “thriller hukum” ini seringkali memberiku inspirasi ketika sedang melakukan observasi “low cases”, atau sedang mendapat tugas membuat paper dan makalah dari dosen mata kuliah kriminologi dan mempresentasikan di depan teman-teman. Aku hanya ingin sekedar menapaktilasi konsep belajar mahasiswa hukum zaman baheula seangkatan Bagir Manan, seorang eksponen Mahkamah Agung, abiturent Universitas Padjajaran Bandung, Fakultas Hukum. Sejarah akademik hukum Indonesia mencatat konsep belajar mahasiswa hukum jaman dahulu ( semasa pak Bagir Manan), tidak hanya dibebankan tugas paper dari dosen saja, di samping itu mereka diharuskan membaca beberapa novel yang telah ditentukan dosen. Bahkan saat akan ujian, mahasiswa tidak hanya dibebankan membaca text book saja, namun harus membaca fiksi hukum juga. Korelasi antara teori dan sastra ini menghasilkan satu prestise tersendiri dalam otak mahasiswa dalam memahami diskursus-diskursus low cases. Namun, sayang sistem semacam ini tak lagi dipakai oleh Universitas Hukum di Indonesia dewasa ini. Padahal metode kuno ini masih dipakai oleh dunia barat. Fiksi hukum sudah menjadi makanan mereka sehari-hari, kasus-kasus hukum yang terdapat pada novel bahkan dibahas di bangku-bangku kuliah mereka . Kalau mahasiswa hukum Indonesia, membaca novel-novel hukum bukan karena kurikulum melainkan lebih karena kegemaran saja, kalau aku pribadi ya… seperti yang telah aku utarakan tadi. Novel hukum bukan sekedar hobi, namun lebih dari itu, isinya sangat bermanfaat untuk menunjang pendidikanku.
Aku sering memimpikan diriku menjadi advocat ulung, pengacara probono (istilah ini ku ambil dari novel “The Street Lawyer”-nya John Grisham), urusan wanita dan anak-anak seperti “Shirin Ebadi” , seorang praktisi hukum spesialis HAM, wanita dan anak-anak dari Iran. Sepak terjangnya yang memukau dalam menyuarakan HAM, perlindungan wanita dan anak-anak mengantarkannya menjadi peraih nobel wanita arab muslim pertama di bidangnya, benar-benar fantastis!
Dengan meniru perjalanan karirnya kelak sebagai praktisi hukum, aku ingin menjadikan masa depan anak-anak dan wanita terlindungi. Jangan sampai mereka merasakan pahitnya kehidupan seperti yang aku alami bersama Ibuku. Aku ingin mengkritisi opini umum yang berbicara mengenai kriminal tabu, selalu saja kebanyakan dari mereka lebih menitikberatkan pada pengendalia perilaku wanita, dan sedikit menyinggung pengendalian perilaku pria, wanita selalu dijadikan kambing hitam. Kalau kasusnya seperti yang kualami dan korban-korban lain yang tak berdosa, apakah mereka akan tetap memvonisku sebagai “terdakwa” ?. Entah mengapa pemikiran subyektif itu selalu mengkontaminasi pikiran mereka.
Sedangkan pemikiranku yang kadang terlalu feminis-idealis selau berkeinginan obsesif yang semakin posesif. Jika kelak aku benar-benar menjadi pengacara, aku akan menuntut semua pelaku pelecehan atas wanita dan anak-anak dengan tuntutan mati tanpa ampun! kalau perlu dengan eksekusi mati kursi listrik atau paling tidak penjara seumur hidup, seakan-akan aku tidak ingin mengerti aturan pidana yang berlaku di negeri yang menganut sistem hukum campuran antara Eropa kontinental, hukum adat, bahkan syari’at Islam yang dipakai oleh beberapa distrik (namun aku tak yakin apakah pelaksanaan itu teraplikasi benar 100% sesuai al Qur’an sebagai sumber utamanya). Why must i care about it ?.
Lihat saja! suatu saat nanti aku akan membuat hidup para penjahat itu merana selama-lamanya bagai di neraka, atau setidaknya mengalami tekanan jiwa yang hebat seperti yang kualami di balik terali besi, mereka harus merasakannya, harus!!! Aku akan membuat mereka meringkuk kaku di kursi pesakitan pengadilan. Dan tentunya aku akan menakuti mereka dengan barbagai agitasi “replikku” nanti..ha..ha..ha..! Tak akan kubiarkan sang hakim memukulkan palunya dengan diktum (hasil putusan) “release and diseharge” untuk mereka. Tidak akan! Hm……. bukan angan-angan yang berlebihan bukan ? tampaknya terdengar agak ekstrim, namun menurutku itu masih dalm taraf kewajaran mengingat masa lalu yang kualami.
Oh ya, seperti yang aku katakan di awal pembicaraan kita tadi, aku akan mengungkapkan alasan yang melatarbelakangi aku memilih nama “Elizabeth Regina” sebagai pengganti nama Raharjo. Setiap orang yang mendengar nama Elizabeth secara reflek pikirannya akan tertuju pada sosok Ratu Britania. That’s right! aku memang mengadopsi nama itu darinya. Lebih tepatnya Ratu Elizabeth I (bukan II) yang oleh Michael Hart, dia dimasukkan sebagai salah satu dari 100 tokoh yang pelaing berpengaruh di dunia, ada dalam bukunya “100 The Most Influential Person in History” yang fenomenal karena menempatkan nabi Muhammad Saw di urutan pertama dan Elizabeth I urutan ke 94.
Penasaran kan kenapa aku memilih namanya?, (iya aja deh) setidaknya ada sedikit persamaan riwayat hidup antara aku dengannya. Lho kok..? Iya! bahwa Ratu Elizabeth yang konon pada masa pemerintahannya itu disebut sebagai jaman keemasan Britania, ternyata dia tidak lebih dari sekedar “anak haram” hasil percintaan antara Raja Henry VIII dengan Anne Boleyn. Gak Percaya? baca aja biografinya di buku-buku sejarah. Meskipun pada akhirnya sang kekasih dinikahi juga, namun tetap saja dewan gereja saat itu menetapkan Anne Boylen sebagai wanita sundal, dan Elizabeth sebagai anak haram! dan dengan penuh kepasrahan Anney Boylen harus menerima vonis hukuman dari gereja. Lantas apa hubunganku dengan Ratu Elizabeth ?, yach aku tadi kan sudah bilang, persamannya sedikit sekali, setidaknya aku dan Ratu sama-sama mempunyai hubungan dengan konotasi buruk (perzinaan) dalam riwayat hidupku. Aku memang bukan anak hasil zina, namun aku terlahir di dunia ini kemudian menjadi “korban”. Dalam sejarah hidupnya, meski Elizabeth dipandang sebelah mata oleh pihak kerajaan, namun pada akhirnya dia dapat merubah pandangan picik yang selama ini tertuju kepadanya dengan pandangan penuh decak kagum dan hormat atas keberhasilannya membangun kerajaan Britania yang gemilang. Benar-benar self made man!.
Aku pun ingin sepertinya, meski dengan status sosial yang buruk yang ku sandang dari sebagian masyarakat, aku ingin bangun dari keterpurukanku. Status sosial yang buruk tidak akan menjadi penghalang bagiku untuk mewujudkan cita-citaku. Dari kejauhan aku mendengar rintihan wanita dan anak-anak yang malang mengiba-iba, meminta perlindungan atas hak-hak mereka. Para wanita dan anak-anak itu benar-benar menanti uluran tanganku. Aku bertekad akan senantiasa berteriak lantang membela mereka di garis depan. “Wahai semua perusak masa depan wanita dan anak-anak! Tunggulah pembalasanku!”.
Ehm…maaf aku terkesan terlalu menggebu-gebu atau sedikit sarkasme dalam mendiskripsikan apa yang ada dalam benakku. Terlebih dalam beberapa ungkapanku tadi ada yang mengandung unsur megalomania . Sekali lagi, ini adalah hal yang wajar akibat implikasi masa lalu. Sulit memang mengendalikan rasio dengan perasaan, apalagi kita harus menghadapi suatu kenyataan. So, jangan salahkan aku jika mengidap salah satu kelainan jiwa ini. Bagi mereka yang intens dengan masalah ilmu Psikologi, pasti bisa memaklumi idiosinkrasiku.
Aaaaaagh! Sebenarnya aku sudah letih dengan semua ini! bullshit! bullshit! Aku merasakan benar kekosongan jiwa yang ada dalam hidupku yang kurasakan hanya virus kebencian dan dendam! Dahagaku akan ketenangan jiwa, terkadang membuatku tak bisa membedakan antara oase dan fatamorgana. Semuanya sama di mataku ! samaaaa! Mungkin kebencian yang selalu menghujam dan menikam ini akibat kurangnya keikhlasanku menerima keputusan Tuhan.
Pada KTPku, aku memang tercatat sebagai orang Islam, namun bagiku itu hanya formalitas saja, aku masih mengenakan baju keimanan yang penuh tambalan sana-sini. Kekecewaanku yang kadang timbul karena kenyataan masa lalu yang kualami menyebabkanku terkadang malas beribadah. Namun untung saja aku tidak sampai berapostacy (murtad) berkonvensi ke agama lain. Meski Apostacy itu sendiri dilindungi HAM dalam deklarasi HAM Internasional tahun 1948 , tapi aku tahu benar itu sangat bertentangan dengan syariat Islam. Untung saja, Tuhan masih berkenan memberikan Rachmat-Nya padaku, berkat petunjukNya beberapa hari lalu aku menemukan sebuah buku yang dapat membuka cakrawala keimanan, kebuntuan hati dan nuraniku selama ini, mengarahkan aku pada satu kesimpulan bahwa : “Alah berkuasa mutlak atas segala sesuatu yang terjadi pada seluruh makhluk-Nya dan Allah berhak memuliakan dan merendahkan siapa saja yang dikehendaki-Nya” ( QS . 3:26).
Kini tak lagi kuanggap klise ucapan teman-temanku bahwa apa yang kualami dan anak-anak malang lain adalah kehendakNya semata. Dan pasti tersimpan hikmah yang misterius di balik itu. Yach..aku akan menerima semua ini dengan lapang dada.
Kehidupan ini tak harus dirubah dengan teriakan, kadang sebuah bisikan saja sudah cukup untuk merubahnya. Oleh karena itu, di suatu pekat malam ketika aku mengubur diri dalam kegelapan aku pun mencoba berbisik padaNya:
Ya Allah, ya Ghofur, ya Wadud
Ampuni aku yang masih berat menerima apa yang telah Kau tetapkan
Bimbinglah aku menuju keridloanmu
Bimbinglah aku menjadi seorang mukhlis terhadap apapun yang tercatat dalam lauh mahfudzMu
Ya Aziz ya Jabbar…
Tak ada maksud hati ingin mendustai apa yang telah Kau tetapkan
Karena aku tak ingin menjadi hamba yang Kau murkai
Dan bimbinglah hatiku agar dapat memaafkan orang-orang yang telah mendzolimiku
Ya Latifan bikholqihi..ya ‘Aliman bi kholqihi..ya Khobiron bi kholqihi…
Ulthuf bina ya Lathifu Ya Alimu ya Khobir..
Ya Qowiyyu ya Matin..ikfi Syarro adz-Dzolimin..
Yo Qowiyyu ya Matin..ikfi Syarro adz-Dzolimin..
* Mahasiswi tingkat Akhir Jurusan Dakwah Peradaban, Kuliah Dakwah Islamiyah Tripoli Libya
Perjalanan yang luar biasa dan mengharukan, saya sangat tersentuh dengan kisah anda, semoga anda selalu ditolong oleh Alloh SWT, amiin
tetap saja ingat kenangan mu karna dengan mengingatnya akan menembuhkan semangat yang menggebu-gebu.
ya alloh ya ‘aziz ya ghoffar,ya alloh ya robb,ya robbul’arsyil’adzim,berikanlah yg terbaik utk saudaraku muslimah yg mengagumkan ini.yg telah menerima taufiq hidayahmu dan kembali sujud padaMU.berikanlah yg terbaik baginya,jalan hidupnya,jodohnya dan anak keturunannya.ya Alloh ya Malikulkuddus,angkatlah darojatnya,dan jg anak dan keturunannya,dan masukanlah mrk termasuk golongan orang2yg bertaqwa.amin