Oleh: nulibya | AgupmThu, 14 Aug 2008 19:32:41 +0000UTC31 24, 2007

Lulus Benar, Selesai Belajar Salah

Hari itu bisa jadi merupakan hari istimewa bagi 97 mahasiswa International Islamic Call College (IICC), Tripoli, Libya. Sebelas orang dari mereka adalah tunas bangsa. Pasalnya, pada siang itu, mereka diwisuda sebagai sarjana lulusan IICC, di hadapan tokoh-tokoh ternama Timur Tengah. Sebut saja, di antaranya, Dr. A. Badruddin Harun (mufti ’am Syria) dan Syekh Ibrahim Al Husain (mufti Nigeria). Selain mereka berdua, mufti Lebanon, mufti Tanzania, Syekh Al Azhar, dan beberapa cendikiwan muslim se dunia pun—yang saat itu sedang menghadiri Konferensi Qiyadah Sya’biyah dan Konferensi Tokoh Sufi Benua Afrika—ikut menjadi saksi penganugerahan gelar sarjana pada sembilan puluh enam mahasiswa dan satu mahasiswi, pada siang itu.

Dalam sambutannya, Rektor Ad Dakwah, Dr Moh. Fatahallah Zayadi, menyatakan bahwa wisudawan/i tahun ini menjadi angkatan paling istimewa. Maka, tidak berlebihan apabila ke sembilan puluh tujuh ”sarjan baru” itu mendapatkan gelar duf’ah Prof. Dr. Al Saih Aly Husain, seorang pemikir dan ulama, serta salah satu founding fathers The World Islamic Call Society (Jam’iyyah Ad Dakwah Al Ismaliyyah Al Alamiyyah) dan The International Islamic Call College (IICC).

Sebaliknya, bisa jadi anugerah yang mereka terima pada pekan terakhir bulan Juli lalu, selasa (22/7), menjadi awal dari saat-saat yang ”menakutkan,” bagi mereka. Sebab, setelah resmi menyandang gelar sarjana dari IICC—nota bene-nya perguruan tinggi yang memfokuskan dirinya pada dakwah Islam— mereke (secara moril) dituntut untuk mengamalkan ilmunya.

Bisakah mereka menjadi dai yang mampu  menjawab problematika zaman yang terus—meminjam bahasa Goenawam Mohamad—menderas?

Jadi, benar jika mereka telah lulus kuliah tapi lulus kuliah bukan menjadi akhir masa belajar. Salah, kalau lulus kuliah diartikan selesai belajar. Justru sebaliknya, lulus kuliah menjadi masa baru bagi mereka untuk masuk ”bangku sekolah baru,” yaitu ”sekolah masyarakat.”

Bisakah mereka mengamalkan ilmu– yang didapatkan dari Libya– di negara masing-masing? Khususnya ke sebelas mahasiswa Indonesia. Mampukah mereka memberikan kontribusi bagi perbaikan bangsa yang sudah carut-marut, hampir tidak berbentuk?

Terlepas dari pertanyaan di atas, mereka tetap senang menikmati hasil perjuangan melawan panas-dinginnya udara Libya, selama (rata-rata) empat tahun. Lima dari sebelas mahasiswa Indonesia yang sudah berhasil menyelesaikan pendidikannya adalah kader Nahdlatul Ulama. Mereka adalah Anas Masudi (Pasuruan), Idris Shaleh (Indramayu), Nurul A’la Al Hady (Semarang), Naily Zulfah Jannah (Pasuruan), dan Syamsuddi (Madura). Zulfah menjadi satu-satunya ”mutiara” Ad Dakwah tahun ini. Dia satu-satunya mahasiswi yang diwisuda tahun ini.

 

***

Kelima wong NU pun berbagi rasa senang dalam acara yang terbingkai dengan: ”Tasyakuran Tahun Empat,” Rabu (13/8) lalu, di taman gedung perkuliahan Ma’had At Ta’hili. Dari acara itu diketahui ternyata selain Zulfah, kader-kader kaum sarungan telah resmi diterima pada program pascasarjana.  

Tasyakuran berjalan hidup. Adu pantun, puisi, dan syair menjadi tambahan bumbu yang membuat acara semakin bernyawa. Semua yang hadir selalu—minimal—menahan tawa, setiap kali pembaca acara, Samsul Al Mandili, berpantun atau membaca syair dan/ atau puisi.

 

***

 

Dan sekarang sebelas sarjana baru itu sedang bersiap-siap kembali ke tanah air. Kita hanya bisa berharap: mereka menjadi montir-montir yang siap untuk turun gunung, membenahi kerusakan bangsa dari bawah. Pun kita hanya bisa melihat apakah hasil mereka di ”sekolah masyarakat” secemerlang hasil yang dibacakan pada sembilan hari sebelum Agustus, disaksikan tokoh-tokoh Timur Tengah, diantara syekh Al Azhar, mufti Syiria, Lebanon, Direktur majalah Sabili, dan mahasiswa IICC, tentunya.

Selamat berjuang! Lulus kuliah benar, selesai belajar salah besar. Uthlubul ilma minal mahdi ilal lahdi, tuntutlah ilmu dari kandungan sampai ke liang kubur. Setelah selesai kuliah, maka saatnya ”sekolah” sebagai ”murid” yang belajar mengamalkan ilmunya.[]

*) Mahasiswa IICC tahun satu, pernah menjai redatur Misykat. Sedang belajar bertanggung jawab sebagai Pemred mjalah Al Ukhuwah dan buletin Sahara. lebih lengkap tentang penulis kunjungi www.jokotingkir.co.nr


Tanggapan

  1. bisa tanya, cara daftar di iicc dan syaratnya.syukron.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori