Wawancara dengan K.H. Saifuddin Amsir dan K.H. Nuril Huda
Libya—salah satu negara Islam yang–terletak di tepian laut mediterania itu sedang menggema di dunia. Pasalnya negara ini sering membuat kebijakan-kebijakan yang membuat dunia heboh. Diantaranya adalah pembuatan paspor dalam bahasa Arab bagi mereka yang mau mengunjungi negeri hijau tersebut. Masih banyak lagi kebijakan Libya yang menghebohkan dunia.
Dikenal dengan sebutan negeri hijau karena orang nomer wahid Libya menyusun sebuah buku yang diberi nama Green Book yang pada akhirnya menjadi undang-undang dasar resmi negara. Walaupun, sebagian besar kebijakan yang ada hanya merupakan angin sejuk untuk Islam. Sebab, kebijakan-kebijakan itu lebih diarahkan untuk kesejahteraan umat muslim di dunia. Diantara kebijakan tersebut ialah dibangunnya Jam’iyyah Ad Dakwah Al Islamiyyah yang menjadi lokomitif serta me-manage semua kebijakan dan bantuan yang bersumber dari pemerintah Libya.
Dan diantara follow up kerja dari perguruan tinggi tersebut adalah sebuah bangunan kokoh dan mewah yang bernama Kulliyah Dakwah Islamiyyah Al Alamiyyah. Sebuah lembaga pendidikan yang berlevel international itu mampu menampung sedikitnya seribu mahasiswa/ mahasiswi dari berbagai Negara. Tidak sebatas Negara muslim saja, Negara nonmuslim pun ada yang study di Ad Dakwah. Misalnya, Brazil dan Australia.
Jam’iyyah Dakwah Islamiyyah yang merupakan induk dari Kulliyah Dakwah Islamiyyah sering mengadakan event-event besar. Misalnya Mu’tamar al Tsamin Al ‘Am li Al Jam’iyyah Al Dakwah Al Islamiyyah. Event ini digelar setiap empat tahun sekali yang dimaksudkan untuk mengevaluasi kinerja Jamiyyah Dakwah Islamiyyah. Acara tersebut menghadirkan tokoh-tokoh Islam dari berbagai macam Negara yang ada. Salah satunya adalah Indonesia.
Pada kesempatan ini rombongan Indonesia ini terdiri dari tokoh-tokoh Ormas Islam. Adalah K.H. Saifuddin Amsir (Rois Syuriyah PBNU) dan K.H. Nuril Huda (Ketua Lembaga Dakwah PBNU) yang menjadi perwakilan PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) dalam muktamar tahun ini.
Kesempatan langka ini tidak disia-siakan oleh Lembaga Ta’lif Wa An Nasyr Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Libya untuk mewawancarai kedua tokoh PBNU tersebut. Berikut petikannya wawancara Muhammad Isa Ghoji Rantau dengan kedua kiai sepuh itu.
Kesempatan pertama kami berikan kepada Bapak K.H Syaifuddin Amsir.
Apa kesan bapak sejak pertama kali bapak datang di Tripoli?
Saya merasa bangga dan senang karena saya melihat sesuatu yang berbeda dalam suatu negeri Islam yang ingin tampil dengan sosok keislaman yang lurus. Berbeda hal yang saya temukan ketika saya mengunjungi Mesir dan Syiria karena saya menemukan sesuatu yang berlebih-lebihan yang bisa mengganggu aqidah. Misalnya, penataan kuburan-kuburan yang begitu indah sehingga nampak berlebihan. Apalagi jika kita melihat masjidil harom, sungguh sangat terkikis hati saya karena tempat yang sangat suci itu sekarang dikelilingi oleh bangunan-bangunan megah yang merupakan pusat bisnis orang Yahudi dan Nasrani. Hotel Hilton umpamanya. Namun, hal yang demikian tidak saya jumpai di negeri ini. Malah, saya melihat pemandangan yang kontradiktif. Yaitu, berubahnya gereja katedral menjadi masjid dan universitas Islam yang sangat menabjubkan.
Bagaimanakah pandangan bapak mengenai Al-Qooid Muammar Khadafi ?
Menurut saya Al-qooid adalah seorang tokoh yang tidak tersembunyi dan bias-bias pemikirannya memicu harapan besar dalam dunia Islam dan bisa dijadikan sosok pemimpin yang belum tergadai oleh pemikiran-pemikiran kaum orientalis. Saya memandang demikian karena ketika saya melihat pointer yang ada di salah satu muktamar seperti sekarang ini. Saya menemukan sebuah tema mengenai bagaimana pentingnya bahasa Arab untuk mempersatukan umat Islam. Sebuah tema yang harus kita bahas bersama-sama karena jika anda kembali ke Indonesia, maka bahasa Arab Anda tidak akan terpakai lagi. Sudah banyak contoh yang anda bisa perhatikan. Begitu banyak doktor dan professor -- lulusan dari Timur Tengah- yang masih fals dalam memainkan belantika musik intelektual. Hal itu disebabkan karena mereka belum diberi kesempatan untuk membuat madah (kurikulum, red) karena jika mereka membuat kurikulum, pasti dengan bahasa Arab. Dan mereka yang notabane-nya adalah doktor dan professor jebolan universitas-universitas kaum orientalis akan mendapatkan kesulitan dalam memahaminya. Hal ini disebabkan literatur bahasa Arab sangat tinggi dan tidak semua orang bisa memahaminya kecuali bagi mereka yang menekuninya. Dan dalam dunia Barat sudah ada pemolaan bahwa orang yang bisa bahasa Inggris adalah orang yang pandai, namun orang yang pandai berbahasa Arab adalah orang yang bodoh. Oleh karena kita harus memenangkan politik Islam, dan memutarbalikkan pemolaan Barat tersebut.
Mengenai politik kita tahu bahwa umat Islam ini mayoritas di Indonesia, namun laksana minoritas. Ketika kita melihat zaman Orde Baru, Islam dengan partainya PPP selalu kalah dalam pemilihan umum. Apalagi dengan keadaan yang sekarang, karena partai Islam telah berpecah belah. Kiranya, adakah suatu inisiatif dari ormas-ormas Islam untuk menyatukan partai Islam?
Inisiatif itu akan muncul ketika adanya persamaan dalam motivasi karena partai adalah sebuah pendaringan yang empuk bagi mereka yang berselera rendah. Ingin gemuk dalam waktu yang singkat. Dan hal ini menjadi suatu hal yang bertolak belakang jika kita melihat orang-orang Nasrani karena mereka mempunyai mental-mental militan dan rela menyerang sehingga mereka bisa bersatu walau dalam Alquran dikatakan, ”Dan hati-hati mereka (umat nasrani, red) bercerai berai.” Dan untuk meng-counter Alquran mereka membuat sebuah paguyuban yang di kenal PGI (Persatuan Gereja Indonesia).
Sikap apa yang diambil PBNU mengenai Hizbut tahriir yang ingin merubah Indonesia menjadi Negara yang berasas khilafah?
Dalam hal ini saya bangga dengan PBNU yang mempunyai ketajaman pemikiran dan cukup jeli sehingga tidak ikut terjebak dengan mereka yang telah memaki-maki Hizbut Tahrir. Mari sejenak kita bayangkan jika memang sisitem khilafah sudah terealisasi, lalu siapa yang akan menjadi kholifahnya? Dan bagaimana jika yang jebol adalah mereka yang dari Yahudi juga?
Karena sekitar 14 juta orang Yahudi menguasai manusia. Dan tidak menutup kemungkinan salah satu mereka bisa berkendaraan atas Hizbut Tahrir yang notabane-nya ingin melakukan pembebasan apa saja. Dan jika kita ibaratkan ke sebuah kalimat lain dari kata-kata yang sama dan mempunyai maksud yang sama, maka kita akan mendapatkan sebuah kalimat harrirna anfusana yang bearti ”bebaskan diri kami” (baik dari syari’at, agama dan lainnya) seperti inilah yang saya khawatirkan.
Bagaimana menurut bapak mengenai moderat yang dianut NU sebagai prinsip dasar?
Kemoderatan NU merupakan sebuah gagasan yang fundamental. Pasalnya asas ini dibangun dengan niat at-tawassuth karena tawassuth adalah yang terbaik kita anut. ”Laa ghorbiyyah walaa syarqiyyah.” Namun, sangat disayangkan karena tawasuth menjadi tameng bagi mereka yang mengambil haluan kiri– JIL. Sehingga ada kesan dari pihak luar bahwa kemoderatan NU nampak sebuah siasat. Padahal itu semua adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari oleh NU sendiri. Karena hal ini menyangkut gaya dan tampilan kita yang bermacam-macam. Namun, seharusnya para nahdliyyin harus mengedepankan ke-NU-annya.
Namun, perlu diingat bahwa eksistensi JIL di dalam tubuh NU bukan berarti NU telah memberikan legalitas kepada mereka. Menurut hemat saya,nhal ini hanya keterjebakkan pemuda NU dengan iming-iming mereka yang mengatakan bahwa agama seharusnya menjadi sumber rezeki karena banyak orang yang tidak beragama namun mereka mempunyai rezeki yang melimpah ruah. Sehingga dengan iming-iming itulah banyak pemuda NU yang yang terjebak dan bermimpi dengan harapan kosong. Dan kalau tidak ada kesadaran ke-NU-an yang tinggi seperti K.H. Hasyim Asy’ari.
Saya berpesan untuk para pemuda NU terhadap hal-hal yang bisa dianggap berhaluan kiri tersebut agar tidak menjauhi mereka namun jangan mendekati mereka. Titik permasalahannya adalah setuju atau tidak setuju. Boleh kita mendekat, tapi jangan setuju. Dan boleh kita menjauh tapi jangan menjatuhkan mereka karena kesempatan mereka untuk berbalik menyerang bukan hal yang mustahil.
Bagaimana sikap NU sebagai orang tua dari PKB yang sekarang sedang berpecah antara kubu gusdur dengan kubu muhaimin?
Untuk pertanyaan saya tidak mempunyai jawaban yang tepat karena keduanya berasal dari NU. Dan kita tidak bisa mengatakan kalau kubu Gus Dur lebih benar dibanding kubu Muhaimin, misalnya. Atau sebaliknya.
Demikianlah wawancara kami dengan K.H Saifuddin amsir. Lalu, kami beralih kepada K.H. Nuril Huda. Berikut ini hasil wawancara kami.
Adakah sebuah rencana yang dibangun NU untuk membuat lembaga-lembaga pendidikan yang berlevel perguruan tinggi atau rumah sakit yang dilatarbelakangi dengan logo Nahdlatul Ulama. Sebagaimana teman-teman Muhammadiyah yang telah berhasil menciptakan rumah sakit dan perguruan tinggi yang berkualitas?
Saya melihat bahwa di Indonesia telah ada semacam pembagian tugas. Bila Muhammadiyyah membangun banyak perguruan tinggi, maka NU mempunyai lebih dari 16.000 pesantren karena NU lebih cendrung membangun sebuah kultur dan budaya sejak dini. Dan– menurut saya–ini adalah kebijakan NU yang paling tepat. Karena membangun budaya lebih sukar dibanding membangun sebuah perguruan tinggi.
Adapun rumah sakit itu adalah kewajiban pemerintah. Jadi bukan kewajiban rakyat. Dan NU bisa fokus sesuai dengan tugasnya.
Adakah sebuah kekhawatiran dari NU atas banyaknya kader-kadernya yang beralih ”warna” yang disebabkan tidak adanya pemantapan ke-NU-an di perguruan tinggi?
Sebagian dari orang NU ada yang berpikir panjang dan ada juga yang berpikir pendek. Dan, menurut saya, pondasi manusia itu dimulai dari umur tujuh tahun sampai 12 tahun, bukan di bangku kuliah. Oleh karena itu, di pesantren-pesantren kita sudah dimulai pendidikan-pendidikan dini mengenai aqidah dan semua dasar-dasar agama. Jika itu dipegang teguh, maka saya yakin itu akan menjadi bekal untuk kedepan.
Dan ada yang mengatakan bahwa kalau perpindahan ”warna” itu diakibatkan karena mereka kurang perhatian dari yang tua-tua. Sehingga saya mau menutupi kekurangan tersebut dengan cara saya bertekad akan memberikan berbagai penghargaan bagi mereka yang study di luar negeri.
Saya sudah melakukan doktrinisasi kepada mereka yang mau menuntut ilmu keluar negeri dengan ahlus sunnah wal jama’ah. Sehingga, insya Allah, kader-kader kita akan terjaga.
Salah satu program peduli kita terhadap dakwah Islam NU akan mengambil 50 anak-anak transmigran yang kurang mampu untuk belajar di pondok pesantren sehingga dengan harapan mereka pulang ke kampung mereka dan mempunyai bekal yang tinggi dalam berdakwah.
Bagaimanakah menurut Kiai mengenai sebuah statement bahwa kiai itu cuma mau berdakwah di depan michrophone, misalnya. Dan duduk di atas bantal yang empuk sehingga terkesan bahwa dakwah kiai itu adalah dakwah yang tidak mau capek. Apakah itu adalah sebuah sindiran untuk NU?
Ulama itu laksana kaca mata. Ada kaca mata untuk santai dan ada juga kaca mata untuk berjalan. Dan kiai yang hanya duduk di depan jama’ah karena murid-muridnya banyak. Sehingga penyampaian dakwah ke pelosok-pelosok pedalaman akan di sampaikan oleh murid-muridnya itu.
Kalau kita melihat diberbagai media informasi, banyak dari LSM dan Ormas Islam yang sangat peduli terhadap bencana-bencana yang terdapat di Indonesia. Namun, kiranya NU masih jarang ditemukan di media-media terkait dengan hal ini?
Perlu saudara ketahui, NU telah banyak mengambil andil dalam masalah kemanusiaan. Contoh, ketika di Aceh dan di Yogyakarta NU telah mengirim berbagai bantuan untuk para korban. Namun, kita tidak memediakan hal itu.
semoga kita semua selalu di lindungi Allah swt dalam menjalani hidup ini sehingga apa yang kita lakukan sesuai dengan Qur’an dan Hadist..
Oleh: oRiDo™ on ApramFri, 17 Apr 2009 10:13:18 +0000UTC30 24, 2007
at 11.31