Oleh: nulibya | NovpmSun, 30 Nov 2008 21:46:06 +0000UTC30 24, 2007

Menggapai Hikmah dari Kisah Qur’aniy

Oleh: Aminah Muhit

Alquran yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw melalui malaikat Jibril ‘alaihissalam merupakan kitab suci bagi umat Islam di seluruh belahan dunia. Alquran juga menyempurnakan kitab-kitab suci yang telah diwahyukan kepada para nabi sebelum Muhammad Saw. Setiap hamba yang menempuh perjalanan menuju Allah Swt tidak akan pernah sampai pada tujuannya tanpa petunjuk Alquran, dan Alquran secara sistematik disusun oleh Dia Yang Maha Agung agar mudah dimengerti dan dipahami.

Salah satu kandungan Alquran adalah cerita mengenai bangsa-bangsa terdahulu dengan peristiwa khusus yang terjadi pada masa itu. Sehingga bisa menjadi ‘ibroh bagi kita yang hidup setelah masanya. Antara lain, cerita ashabul kahfi (pemuda penghuni gua). Peristiwa itu merupakan salah satu contoh dari tanda-tanda kekuasaan Allah Swt. Surat Al Kahfi yang berjumlah 110 ayat dan terletak pada urutan ke 18 dalam surat-surat Alquran adalah kalam ilahi yang menceritakan kisah ini. Kisah ashabul kahfi tertuang dalam firman Allah Swt pada ayat 9–26 dari surat ini.

Asbabunnuzul

Penamaan surat Al Kahfi diambil dari kisah pemuda mukmin yang bersembunyi di dalam al kahfi (gua) untuk menghindari penindasan dan perbuatan yang tidak adil dari penguasa yang mengingkari Allah terhadap rakyatnya yang beriman. Yang mana kisahnya benar-benar menyiratkan keajaiban ilahi. Keseluruhan ayat-ayat dalam surat Al Kahfi pada hakikatnya berisi jawaban atas pertanyaan utusan Madinah kepada rasulullah Saw. Kedua orang utusan tersebut adalah penduduk Makkah, yaitu Nadhr bin Harits dan ‘Uqbah bin Mu’ith. Mereka berdua disuruh pemuka Yahudi Madinah menemui nabi untuk menguji kebenaran bahwa ia benar-benar seorang utusan Allah Swt.

Adapun tiga pertanyaan tersebut adalah:

1. Berapa pemuda yang bersembunyi di dalam gua dan apa hubungannya dengan ’raqim’ (pahatan) yang terdapat di dalamnya.

2. Siapakah sebenarnya penjelajah ke Timur-Barat yang bernama Dzul Qarnain itu.

3. Apakah sesungguhnya yang disebut ’roh’ itu.

Apabila jawabannya dipandang benar, maka Muhammad Saw benar seorang rasul. Tetapi, jika jawabannya dianggap salah, beliau –oleh mereka akan– dinyatakan sebagai mutaqawwil yakni orang yang hanya pandai bicara saja.

Rasulullah Saw menjanjikan kepada dua orang itu akan memberikan jawabnnya esok hari. Ia berharap pada malam harinya Tuhan menurunkan wahyu melalui malaikat Jibril. Pada saat itu, nabi lupa mengucapkan: insya Allah.

Esok harinya mereka menagih janji. Namun, wahyu tidak turun. Kejadian itu, sampai berhari-hari berikutnya sehingga pengikut beliau mulai gelisah dan cemas sindiran dari kaum musyrikin. Baru pada hari ke lima belas wahyu yang dibawa malaikat Jibril turun, antara lain berbunyi:

”Kami ceriterakan kepada engkau ceritera mereka itu dengan benar. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.

Dan Kami teguhkan hati mereka tatkala mereka berdiri (mengambil sikap), maka merekapun berkata:’Tuhan kami ialah Tuhan sekalian langit dan bumi. Sekali-kali kami tidak akan menyeru kepada yang selain Dia satu Tuhanpun. Karena kalau demikian, niscaya perkataan kami melanggar kebenaran.’” (Al Kahfi: 13–14).

Mereka akan berkata: mereka itu tiga orang, yang keempat adalah anjing mereka. Dan berkata pula (yang lain): lima orang, yang keenam anjing mereka. Sangka-sangkaan belaka tentang hal yang ghaib. Dan berkata lagi (yang lain): bertujuh dan yang kedelapan anjing mereka. Katakanlah: Tuhanku yang lebih tahu dengan bilangan mereka. Tidak ada yang mengetahui berapa mereka kecuali sedikit. Karena itu janganlah ikut bertengkar tentang mereka, melainkan perbantahan yang jelas, dan tak usahlah engkau bertanya tentang mereka itu kepada seorang juapun.”

Ayat-ayat dalam surat Al Kahfi penuh dengan hikmah yang perlu dicermati, antara lain, ayat 23 dan 24 yang mengingatkan arti pentingnya lafadz ”insya Allah” atas kejadian atau hasil yang diperkirakan akan terjadi di masa depan.

”Dan janganlah kamu sekali-kali mengatakan terhadap sesuatu:’Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi.’ Kecuali (dengan menyebut)insya Allah. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: ’Mudah-mudahan Tuhanku akan memberi petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini.’”

Pada kesempatan kali ini saya hanya ingin mengulas salah satu dari kisah-kisah yang terkandung di dalam surat Al Kahfi tersebut sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh utusan Madinah kepada baginda rasulullah Saw.

Ashaabul Kahfi

Ashabul kahfi adalah para pemuda yang beriman kepada Allah Swt. Menurut sebagian riwayat jumlah mereka ada tujuh orang dengan seekor anjing. mereka hidup pada negeri yang dipimpin oleh seorang raja Romawi nan zalim dan syirik. Tidak tahan atas kezaliman raja akhirnya mereka melarikan diri dari negeri itu untuk menyelamatkan akidah.

Lalu, Allah memudahkan sehingga mereka menemukan sebuah gua. Mereka pun masuk ke dalamnya dan tertidur di sana sampai waktu yang sangat panjang, sekitar tiga ratus sembilan tahun (Al Kahfi: 25). Ajaibnya, mereka tertidur tanpa membutuhkan makan dan minum. Allah Swt membolak-balikkan tubuh mereka sehingga darah tidak membeku pada bagian tubuh (Al Kahfi: 18).

Sedangkan, ar raqïm yang tertera dalam firman Allah Swt (Al Kahfi: 9) memiliki beberapa makna. Paling tidak ada tiga makna berbeda menurut mufassirin dan ilmuwan lainnya, yaitu (1) nama anjing ketujuh pemuda ashabul kahfi itu, (2) batu bersurat yang bertuliskan nama-nama pemuda ashaabul kahfi yang konon menurut salah satu riwayat ditulis oleh dua orang mukmin– Pedrus dan Runas– yang berusaha menyembunyikan keimanannya di sisi Raja Diqyanus, dan (3) sebagian yang lain memberikan arti wadi yang berada di sekitar gua.

Menurut riwayat, tempat ditemukannya gua tersebut bernama Sahab yang terletak di Amman. Ketika itu, kerajaan Romawi membawahi Liga Decapolis yang berpusat di Philadelphia (kini dikenal sebagai Amman). Di mana raja yang memerintah saat itu bernama Diqyanus atau Decius, seorang penyembah berhala dan memusuhi agama Nasrani.

Catatan sejarah juga mengabarkan, pada saat itu, banyak kekaisaran yang melaksanakan kebijakan teror secara meluas, penindasan dan tindakan sewenang-wenang terhadap mereka yang percaya kepada agama Kristen yang murni.

Dalam sebuah surat yang ditulis oleh Pilinius (69–113 M), Gubernur Romawi, yang berada di Barat Laut Anatolia kepada Kaisar Trayanus, menghubungkan kisah ashabul kahfi dengan orang-orang Messiah (Kristen) yang dihukum karena menolak menyembah patung dari sang kaisar. Surat ini adalah salah satu dokumen terpenting yang berkaitan dengan penindasan yang menimpa umat Kristen pada masa awalnya.

Berada dalam situasi seperti ini, maka pemuda ashabul kahfi menolak untuk tunduk kepada sistem nonagama dan menyembah kaisar sebagai Tuhan. Merekapun tidak menerima hal ini dan mengatakan, ”Dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata, ’Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalu demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.’ Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai Tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka). Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah? (Al Kahfi: 14–15).

Semua peneliti dan pengamat– termasuk kalangan Kristen– mengatakan bahwa kejadian tersebut terjadi pada masa kaisaran Diqyanus berkuasa, sekitar 250 Masehi. Decius bersama dengan Nero dikenal sebagai Kaisar Romawi yang sering menyiksa kaum Kristen. Pada masa pemerintahannya yang singkat mengesahkan sebuah hukum yang berisi paksaan terhadap semua orang yang berada di bawah kekuasaannya untuk melakukan pengorbanan terhadap Dewa-dewa Romawi. Bagi mereka yang tidak mematuhinya akan dibunuh.

Dalam sumber-sumber Kristen hal ini dikatakan bahwa bagian besar dari umat Kristen menolak perilaku musyrik ini dan melarikan diri dari satu kota ke kota lain atau bersembunyi di tempat rahasia. Pemuda ashabul kahfi kemungkinan besar adalah salah satu kelompok diantara umat Kristen yang menolak perilaku ini.

Dengan memperhatikan daerah di mana letak gua tempat persembunyian pemuda ashabul kahfi, terdapat beberapa pandapat yang berbeda. Dari beberapa argumen yang logis adalah pendapat yang mengatakan daerah tersebut adalah Ephesus dan Tarsus. Hampir semua sumber dari Kristen menunjukkan Ephesus merupakan tempat gua dimana pemuda beriman ini berlindung. Beberapa peneliti Muslim dan pengamat Alquran pun setuju dengan pendapat kaum Kristen tentang Ephesus.

Sebagaimana dikenal luas, Ephesus diterima sebagai sebuah tempat suci bagi orang Kristen karena di kota tersebut terdapat sebuah rumah yang diyakini milik perawan Maria. Kemudian, berubah menjadi sebuah gereja. Jadi, sangatlah mungkin bahwa para penghuni gua pernah hidup disalah satu tempat-tempat suci tersebut. Beberapa sumber Kristen bahkan menegaskan bahwa tempatnya adalah disini.

Sumber tertua yang berkaitan dengan hal ini adalah dari seorang pendeta Syria bernama James dari Saruc (lahir 452 M). Ahli sejarah terkemuka Gibbon telah banyak mengutip dari penelitian James dalam bukunya, The Decline and Fall of the Roman Empire (Kemunduran dan runtuhnya Kekaisaan Romawi). Berdasarkan buku ini, kaisar yang melakukan penyiksaan tujuh pemuda pemeluk agama Kristen dan memaksa mereka untuk bersembunyi di dalam gua adalah Kaisar Decius. Decius berkuasa di kekaisaran Romawi antara 249–251 M dan masa pemerintahannya dikenal luas terhadap penyiksaan yang dilakukan terhadap para pengikut Nabi Isa (Jesus).

Menurut Gibbon nama dari tempat ini adalah Ephesus. Terletak di pantai Barat Anatolia. Kota ini adalah salah satu pelabuhan dan terbesar yang berada di wilayah kekaisaran Romawi. Saat ini reruntuhan kota ini dikenal sebagai ”Kota Antik Ephesus.”

Seorang arkeolog bernama Musa Baran menunjuk Ephesus sebagai tempat dimana sekelompok orang muda yang beriman ini hidup. Dalam bukunya yang berjudul Ephesus beliau mengatakan, ”Di tahun 250 SM, tujuh orang pemuda yang hidup di Ephesus memilih untuk memeluk agama Kristen dan menolak menyembah berhala. Mencoba untuk mencari jalan keluar, sekelompok pemuda ini menemukan sebuah gua yang berada di sebelah timur lereng gunung Pion. Tentara Romawi yang melihat ini membangun dinding di pintu gua tersebut.

Beberapa pendapat yang lainnya menerangkan dengan terperinci bahwa tempat tersebut bukanlah Ephesus dan berusaha untuk membuktikan bahwa peristiwa tersebut terjadi di Tarsus.

Tempat kedua yang diajukan sebagai tempat dinama penghuni gua pernah hidup adalah Tarsus.Ternyata memang benar terdapat sebuah gua yang mirip dengan gua yang disebutkan dalam Alquran yang terletak di sebuah gunung dikenal baik sebagai Encilus atau Bencilus yang terletak di barat laut Tarsus.

Pendapat yang menyatakan bahwa Tarsus tempat yang tepat adalah pandangan dari banyak sejarawa muslim. At Tabari dalam bukunya, Tarikh Al Umam, menetapkan bahwa nama gunung dimana gua tersebut berada adalah Bencilus yang terletak di Tarsus.

Ahli Tafsir Alquran lain bernama Muhammad Emin menyatakan bahwa nama gunung tersebut adalah Pencilus yang ada di Tarsus, kadang-kadang diucapkan dengan Encilus. Menurutnya, perbedaan huruf disebabkan perbedaan pengucapan huruf b atau hilangnya huruf dari kata aslinya. Hal ini disebut dengan historical word abrasion atau abrasi kata-kata sejarah.

Fakhrudin Ar Razi, seorang ulama Alquran terkenal yang lain, menerangkan dalam penelitiannya bahwa meskipun tempat ini disebut dengan Ephesus, maksud dasarnya untuk mengatakan Tarsus disini, sebab Ephesus hanyalah nama lain dari Tarsus.

Sebagai tambahan, dalam tafsir Al Baidlawi, An Nasafi, Al Jalalain, At Tibyan, dan komentar para ilmuwan/ ulama lainnya, tempat itu ditunjuk dengan Tarsus.

Sehubungan dengan adanya pendapat yang mengatakan bahwa letak gua tersebut di daerah Ephesus, Turki, bukan di Buloqaa, Yordania, pemerintah Turki untuk maksud yang sama mengadakan penggalian di situs Ephesus. Namun, hasil yang didapat malah menguatkan hasil penemuan gua di Buloqaa,Yordania, yang diakui secara resmi oleh pemerintah Turki. Di Ephesus tidak terdapat tempat peribadatan dan di sana juga tidak didapati pahatan tulisan Byzantium seperti yang terdapat di Buloqaa. Pendapat tersebut juga dikuatkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Anui Dajjani, seorang doktor dari jawatan purbakala Yordania, pada tahun 1962.

Ada pula yang berpendapat bahwa kisah para pemuda ashaabul kahfi itu terjadi di Syiria.

Lokasi gua ashaabul kahfi

***

Pada akhirnya, ketika terbangun dari tidur yang sangat panjang, mereka heran dan saling bertanya berapa lamakah kita tertidur? Kemudian, mereka menjawab, ”Sehari atau beberapa hari saja.” Tetapi, alangkah terkejutnya ketika salah seorang dari pemuda ashabul kahfi, Yamlikha, melihat keadaan sekeliling gua telah berganti dengan bangunan-bangunan yang megah tidak seperti apa yang telah mereka lihat sebelum bersembunyi di dalam gua. Dan para penduduk negeri itu sudah menjadi penduduk yang bertakwa kepada Allah Swt.

Dia juga merasa heran mengapa Raja Diqyanus tidak membunuh mereka yang mengagung-agungkan Al Masih. Padahal dia mendengarnya sendiri. Thamlika yang berniat membeli makanan ke kota mengira mungkin aku masih belum tersadar dari tidurku atau kota ini bukan kota tempat tinggalku sebelumnya. Dia pun bertanya kepada salah seorang penduduk, dan dijawab bahwasanya ini adalah kota Ephesus.

Pemilik kedai makanan terkejut ketika Yamlikha menyodorkan uang pembayaran karena mata uang tersebut bergambar Raja zalim Diqyanus yang telah berkuasa beberapa abad lalu. Sedangkan sekarang telah berganti raja yang beriman kepada Allah Swt. Akhirnya, Thamlika mengetahui bahwa dia dan teman-temannya telah tertidur tidak dalam waktu yang singkat, melainkan 309 tahun.

Menurut riwayat, pintu gua ashaabul kahfi itu menghadap ke utara. Oleh sebab itu, cahaya matahari tidak dapat menembus ruang-ruang gelap di dalam gua. Sehingga orang yang ramai lalu lalang di sekitarnya tidak akan menduga bahwa mereka berada di dalamnya (Al Kahfi:17).

setelah masyarakat mengetahui kisah para pemuda itu, tidak lama kemudian ashaabul kahfi pun meninggal dunia. Adapun kesahihan jumlah dan nama pemuda-pemuda itu tidak diketahui secara pasti. Banyak perselisihan di dalamnya.

Diriwayatkan sesungguhnya sekelompok penduduk Najran sedang bersama rasulullah Saw. Beliau menceritakan kisah ashaabul kahfi. Sayyid– pengikut agama Nabi Ya’qub as– berkata, ”Jumlah mereka empat orang dan yang kelimanya anjing.” Kemudian, Aqib- seorang Nasthury- berkata, ”Jumlah mereka lima orang dan keenamnya anjing mereka. Sedangkan orang Islam mengatakan jumlah mereka tujuh orang kedelapannya anjing mereka. Allah Swt memastikan kebenaran jawaban orang-orang Islam.

Hadits yang diriwayatkan oleh sayyidina Ali ra menguatkan keyakinan kaum muslim mengenai jumlah ashabul kahfi, tujuh orang pemuda. Mereka terbagi menjadi dua: tiga orang pertama adalah yang berada di sebelah kanan Raja Diqyanus (Yamlikha, Maxilina, dan Massilino), tiga orang kedua berada di sebelah kiri raja (Marnus, Deprinus, dan Sadznus), dan ditambah satu lagi yaitu penggembala yang melindungi mereka ketika melarikan diri ke dalam gua serta seekor anjing yang bernama Qithmir. Ada yang mengatakan satu-satunya anjing yang masuk surga.

Saat ini, telah diketahui bahwa diatas reruntuhan tua dan kuburan ini banyak didirikan bangunan religius. Penggalian yang dilakukan oleh Institut Arkeologi Austria (1926) mengungkapkan bahwa reruntuhan yang ditemukan di lereng Timur gunung Pion merupakan sebuah bangunan yang didirikan untuk kepentingan para penghuni gua di pertengahan abad ke-7 (selama masa kepemimpinan Theodosius II).

Allah juga menyebutkan dalam firman-Nya, ”Ketika mereka berselisih tentang urusan mereka, maka mereka berkata, ’Dirikanlah sebuah bangunan di atas gua mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka.’ Sedangkan orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, ’Kami pasti akan mendirikan sebuah rumah ibadah di atasnya’” (Al Kahfi: 21).

Cerita Versi Kristen

Dalam mitologi Kristen kisah ini dikenal dengan nama The Seven Sleepers. Menurut kisah itu, Maxalmena dikenal juga dengan nama Maximillan. Nama ini merupakan asal muasal sebutan modern untuk Max. Sedangkan Martinus (kawan Maxalmena) untuk nama modern Martin. Umat Katolik Italia menyebut nama Maxalmena dengan sebutan Massimilliano.

Menurut umat Kristiani, kisah ini terjadi pada masa kekaisaran Raja Decius, sekitar tahun 250 Masehi. Tujuh orang pemuda dianiaya oleh Kaisar Decius karena dituduh memeluk agama Kristen. Mereka diberikan waktu untuk menggadaikan iman mereka. Kemudian, mereka membagikan harta mereka kepada fakir-miskin. Lalu, pergi ke gunung untuk berdoa dan tertidur. Ketika melihat bahwa sikap mereka terhadap agama kafir belum berubah, kaisar memerintahkan agar mulut gua itu disegel.

Setelah puluhan tahun berlalu, pada masa pemerintahan Theodosius (379– 395). Pemilik tanah memutuskan untuk membuka mulut gua yang disegel itu untuk dijadikan kandang sapinya. Dan alangkah terkejutnya, setelah berhasil dibuka, ia menemukan tujuh pemuda yang sedang tidur di dalamnya. Mereka terbangun. Mereka merasa baru tidur satu hari saja. Salah seorang dari mereka kembali ke Efesus. Ia tercengang menyaksikan bangunan-bangunan dengan tanda-tanda salib di atasnya. Orang-orang yang ditemuinya pun tidak kalah tercengangnya ketika pemuda itu berusaha menggunakan mata uang lama dari pemerintahan Decius. Uskup dipanggil untuk mewawancarai ketujuh pemuda itu. Mereka menceritakan kisah ajaib itu, lalu meninggal sambil memuji Allah.

Sebuah hari peringatan dirayakan untuk ketujuh pemuda itu dan dinamai sebagai hari pesta Santo ”Maximianus, Malchus, Martinianus, Dionisius, Yoannes, Serapion, dan Konstantinus” setiap tanggal 27 Juli. Nama-nama lain dari ketujuh pemuda ini diberikan dalam sumber-sumber lain. Perayaan ini dihapuskan dan dianggap sebagai mitos setelah pembaruan liturgi Katolik Roma pada 1969. Namun, pesta di kalangan Ortodoks Timur tetap diperingati setiap 22 Oktober.

Konklusi

Melihat dan memahami kandungan ayat 9–26 surat Al Kahfi dapat kita simpulkan bahwasanya pemuda ashaabul kahfi adalah pemuda-pemuda pilihan yang memiliki keistimewaan dari Allah Swt yang kita sebut dengan karomah karena teguhnya pendirian mereka dalam menjaga keimanan kepada sesuatu yang haqq. Sesungguhnya kisah yang telah terjadi beberapa abad silam tersebut dapat kita analogikan kepada situasi dan kondisi yang dialami umat Islam abad 21 ini.

Memang sedikit agak berbeda dengan hal di atas. Tantangan tauhid di abad 21 lebih kompleks, tentunya. Era globalisasi yang dialami manusia modern menciptakan Tuhan-tuhan modern yang lebih canggih dan menggoda. Globalisasi dapat dipahami sebagai sebuah proses dimana orang-orang di seluruh dunia dipersatukan dalam sebuah komunitas tunggal, baik secara ekonomi, teknologi, sosial budaya, dan politik.

Dalam globalisasi, batas-batas teritorial antarnegara memang masih ada, namun sudah tidak lagi signifikan untuk memisahkan koneksitas kehidupan yang ada di dalamnya. Jarak, ruang, dan waktu menjadi tidak lagi memisahkan komunikasi manusia-manusia di belahan bumi berbeda. Ini artinya, apa yang terjadi di satu belahan bumi dapat segera didengar, diketahui, bahkan mempengaruhi belahan bumi yang lain.

Di satu sisi, dampak globalisasi memunculkan efek-efek positif. Komunikasi yang lebih cepat, hemat, dan efektif merupakan salah satu manfaatnya. Namun, di sisi lain, globalisasi juga menawarkan tantangan-tantangan yang justru dapat memutarbalikkan nilai-nilai tauhid dan religiusitas kaum beriman.

Di sinilah peran kita sebagai generasi yang berintelektual dan meyakini Allah semata-mata dalam kehidupan sehari-hari agar mengarahkan kepada persatuan yang berlandaskan kepada Alquran dan hadits. Karena itu, sebaiknya kita mencari titik-titik persamaan bukan malah memperluas titik-titik perbedaan yang sangat kecil.

Akhirnya, kita hanya dapat memohon kepada Allah Swt supaya kita selalu diberikan keikhlasan dalam berjuang memperjuangkan undang-undang-Nya untuk diaplikasikan di atas bumi-Nya. Amiin.

Referensi :

  1. As Syairozi, Nashiruddin. 1998. Tafsir Al Baidhawi. Juz III. Baerut: Darl Ihya al Turats al Araby.
  2. An Nasafi, Abu al-Barokaat. 1999. Tafsir An Nasafi. Juz II. Baerut: Darl Ibn Katsir.
  3. At Thabari, Ibnu Jarir. 2001. Tafsir Ath Thabari. Juz XV. Baerut: Darl Ihya al Turats al Araby.
  4. Jauhari. Jawahir fi At Tafsir Al Qur’an Al Karim. Juz IX. Baerut: Darl Fikr.
  5. ‘Adhim, Sa’id Abdul. Qishoh Ash Haab Al Kahfi.
  6. Beberapa website internet


Tanggapan

  1. salam to temen2 di NU Libya

  2. Assalamualaikum……

    Qisah yang lain dtggu ya….

    wass…….


Beri tanggapan

Your response:

Kategori