Men’’sehat”kan Islam dari Aroganisme dalam Berdakwah
Mengapa metode dakwah dalam islam perlu direkonstruksi untuk saat ini? Bukankah islam adalah agama yang kamil tidak kurang sedikitpun? Pertanyaan ini sangat mungkin akan terlontar dari kalangan muslimin bahkan non muslim sekalipun. Tak berlebihan bila dibutuhkan penjelasan sederhana, logis dan tidak berbau anarkis untuk menjawabnya.
Metode dakwah menarik untuk dibicarakan dan dikaji ulang karena kadang hal ini membawa perbedaan persepsi akan suatu pemahaman dalam islam sendiri dan tak jarang berbuntut ‘’sikut-sikutan” antar pendakwah. Metode dakwah sendiri bisa menentukan berhasil tidaknya proses dakwah seorang pendakwah.
Bila kita mau berfikir ‘’sehat” sebenarnya metode dakwah memang bisa dan suatu saat harus berubah, karena sejumlah alasan. Diantaranya, Perbedaan adat dan kebudayaan al-mad’u (orang yang didakwahi). Adat dan kebudayaan setiap komunitas tidak akan sama persis dengan yang lain bahkan ada yang berbanding terbalik seratus persen. Untuk itu diperlukan metode yang pas untuk komunitas yang dihadapi sang da’i. Allah swt berfirman dalam surat Ibrahim ayat 04 yang artinya ; Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan, siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. Dalam ayat ini ada dua kata yang sangat urgen dan berkaitan satu dengan lainnya yaitu rasul dan bahasa kaumnya. Kata rasul bisa ditafsiri sebagai seorang da’i sedangkan kata bahasa kaumnya bisa kita fahami sebagai metode dan media dakwah. Ketika berbeda kaum dan berbeda rasul tentunya berbeda pula metode dan media penyampaiannya.
Sebagai contoh, metode dan media dakwah yang dipakai oleh para da’i di pulau Jawa zaman dahulu atau yang akrab dipanggil dengan wali songo (wali sembilan). Metode dan media dakwah mereka berbeda dengan yang digunakan da’i pada zaman Rasulullah dan para sahabatnya di negara arab, meskipun mengandung esensi yang sama yaitu hikmah dan mauidloh hasanah. Wali songo lebih memilih metode akulturasi meskipun membutuhkan proses dan waktu panjang, mengingat adat dan kebudayaan orang Jawa yang sudah mendarah daging. Unsur-unsur islam diintegrasikan pada budaya lokal dan sebaliknya. Islam kemudian menjadi bagian yang tidak terasa aneh dan asing dalam nafas kehidupan orang Jawa. Di sinilah teknik wali songo merubah metode dakwah ala negara arab menjadi metode yang sesuai dan pas dengan orang jawa. Mempraktikkan inti sari dari rasul dan bahasa kaumnya seperti yang termaktub dalam ayat di atas.
Metode dakwah yang relevan dalam konteks indonesia kontemporer
Inti dari dakwah dalam Islam adalah amar ma’ruf nahi munkar dengan cara yang bisa diterima oleh umat tanpa sesuau hal yang mengakibatkan kekerasan bahkan permusuhan. Nabi Muhammad saw sendiri pun mengajarkan kita untuk berdakwah dengan cara yang ahsan (lebih baik) dan tanpa mengesampingkan inti dari muatan dalam dakwah itu sendiri.
Allah swt berfirman dalam surat Ali Imran : 110 yang artinya ” Kamu adalah sebaik-baiknya umat, yang dikeluarkan Tuhan untuk seluruh manusia, menyuruh mengerjakan yang benar dan melarang membuat yang salah, serta beriman kepada Tuhan. Sekiranya orang-orang ahli kitab itu beriman, sesungguhnya itu baik untuk mereka, sebagian mereka beriman, tetapi kebanyakannya orang-orang yang jahat.”
Firman Allah ini terbagi menjadi empat bagian yang inti yaitu ;
1. Kamu adalah yang sebaik-baiknya umat yang dikeluarkan Tuhan untuk seluruh manusia.
2. Kamu menyuruh berbuat yang ma’ruf.
3. Dan kamu melarang yang munkar.
4. Dan kamu percaya kepada Allah.
Ini adalah satu ayat yang tidak boleh dipisahkan dalam memaknainya. Adanya huruf ”wawu” mempersambungkan antar empat nilai pokok di atas. Umat nabi Muhammad saw akan menjadi sebaik-baiknya umat bila mempunyai tiga sifat keutamaan itu. Berani berbuat ma’ruf, melarang berbuat munkar dan percaya kepada Allah swt. Apabila ketiga unsur ini ada, pastilah mereka mencapai kedudukan yang tinggi di antara pergaulan manusia.
Suatu masyarakat dapat mencapai martabat setinggi-tingginya dalam dunia ini adalah bilamana dia mempunyai kebebasan. Dan inti kebebasan itu ada dalam tiga perkara :
1. Kebebasan kemauan (iradat) atau karsa.
2. Kebebasan menyatakan pikiran atau periksa.
3. Kebebasan jiwa dari keraguan atau rasa.
Apabila manusia mempunyai kebebasan iradat, kemauan atau karsa niscaya dia berani menjadi pelaksana dari perbuatan yang ma’ruf. Kebebasan inilah yang cocok dijadikan landasan metode berdakwah di Indonesia untuk saat ini sehingga da’i bisa menjadikan Islam bangkit dan kembali eksis di Indonesia.
Kebebasan dengan segala bentuknya terkhusus dalam berpikir dan kebebasan menyatakan pendapat, menimbulkan keberanian menentang yang munkar, yang salah. Kebebasan seorang da’i yang berani menyuruh kepada ma’ruf dan melarang munkar adalah bersumber dari bebasnya jiwa itu sendiri. Jiwa yang telah terlepas dari segala macam rantai dan belenggu.
Rantai dan belenggu yang mengikat jiwa adalah benda. Dan benda itu pecah tidak karuan wujudnya karena berasal dari dzarrah. Jiwa harus dibebaskan dari benda dan ditujukan kepada satu saja, yaitu pencipta benda. Orang yang diikat oleh benda pasti menjadi musyrik, sebab benda itu pecah. Dan tujuan akal yang ‘’sehat” bukanlah kepada yang pecah, tetapi kepada yang Esa lagi Kuasa.
Untuk itu apabila kita ingin membumikan Islam di Indnesia saat ini maka kita harus menjunjung tinggi asas kebebasan dalam berdakwah yang diiringi dengan keikhlasan karena kebebasan bisa mendorong sang da’i untuk mencapai target yang lebih sempurna dan lebih bahagia sehingga umat tidak menjadi statis, apatis bahkan anarkis. Wallahu A’lam
Tian Kamaludin