Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Link Umum’ Category

Alwi Shihab Hadiri Silaturrahim PCINU Libya

Rabu, 3 November 2010

Tripoli, NU Online
Mantan Menko Kesra dalam Kabinet Indonesia Bersatu (KIB), Alwi Shihab menhadiri silaturahim Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Libya di hotel Corenthia, Tripoli Libya Senin (1/11) kemarin.

Dalam sambutannya ia mengharapkan lahirnya tokoh-tokoh Islam Indonesia yang moderat dari lembaga pendidikan Islam di Libya.  Islam moderat dianggap mampu menyelesaikan problematika keagamaan yang semakin berkembang di tanah air. Dari tokoh-tokoh Islam seperti ini juga diharapkan mampu mengikis pemahaman Islam yang cenderung salah kaprah dalam prakteknya seperti radikalisme dan ekstrimisme.

“Saat ini kita mengharapkan lahirnya tokoh-tokoh Islam yang moderat dari negeri Islam seperti Libya. Karena tokoh seperti itulah yang dibutuhkan di Indonesia saat sekarang. Dan dengan adanya tokoh-tokoh moderat umat Islam Indonesia yang condong radikal dapat diminimalisir,” katanya.

Ia menambahkan bahwa mahasiswa Indonesia khususnya Nahdliyin yang saat ini sedang menimba ilmu pengetahuan di Libya harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya dalam menghadapi  tantangan masa depan . Disamping itu, mantan Menlu di era kepemimpinan Gus Dur ini mengharapkan agar Nahdliyin juga membuka diri dalam menyongsong arus globalisasi yang semakin gencar. Salah satu hal yang paling penting menurutnya adalah dengan menguasai beberapa bahasa asing seperti Inggris dan Arab. Karena bahasa merupakan tangga menuju internasionalisasi Islam.

Turut hadir dalam silaturahmi dengan mantan Ketua Umum PKB ini, Dubes RI untuk Libya, Drs.Sanusi dan beberapa staf KBRI Tripoli Libya.

Alwi Shihab tiba di kota Tripoli dua hari sebelumnya Sabtu (30/10) untuk menjalin hubungan bilateral antara Indonesia dan Libya. Beliau merupakan utusan khusus Indonesia dalam urusan negara-negara Timur Tengah sekaligus Organisasi Konferensi Islam atau OKI. (nam)

Iklan

Read Full Post »

MENILIK BENCANA ALAM DI INDONESIA

Pada tanggal 26 Oktober 2010 mungkin adalah hari yang paling memilukan untuk Indonesia, sebab 2 bencana alam melanda yakni Gunung Meletus dan Gempa & Tsunami di Mentawai. Mungkin banyak bertanya-tanya mengapa Indonesia yang dikenal sebagai negara yang kaya harus menerima musibah yang terjadi secara beruntun dan berulang-ulang. Mungkin itu adalah konsekuensi dari kekayaan yang kita miliki. Mengapa harus disimpulkan seperti itu ? Untuk menjawabnya kita perlu menganalogikan Indonesia sebagai negara yang kaya seperti orang yang kaya raya memiliki banyak harta, kita sering mendengar orang kaya biasanya akan lebih sering mendapatkan ujian dari Allah SWT daripada orang yang kurang mampu, kemudian pada umumnya mereka akan diuji oleh Allah dengan harta yang mereka miliki pula. Jadi, jika kita bandingkan kurang lebih memiliki kesamaan dengan musibah di Indonesia, negeri kita yang kaya sering mendapatkan ujian/cobaan berupa bencana alam, dan ujian/cobaan tersebut menggunakan harta yang kita miliki juga yakni air dan tanah. Air untuk bencana Tsunami di Mentawai dan tanah (isi perut bumi) dari Gunung Merapi yang seperti kita ketahui kandungan perut bumi itu memiliki kandungan yang sangat baik bagi tanah sehingga dapat menyuburkan tanah, dengan kata lain dapat meremajakan tanah sehingga subur kembali.

Gunung Merapi

Jenis Gunung api:

Bentuk : Stratovolcano, artinya strato berarti kerucut dan volcano berarti gunung api, sehingga kurang lebih stratovolcano dapat diartikan gunung api yang bentuknya menyerupai kerucut.

Ketinggian Puncak : 2968 m

Lintang : 7.542°S

Bujur : 110.442°E

Merapi adalah nama sebuah gunung berapi di provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta, Indonesia yang masih sangat aktif hingga saat ini. Sejak tahun 1548, gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali. Letaknya cukup dekat dengan Kota Yogyakarta dan masih terdapat desa-desa di lerengnya sampai ketinggian 1700 m. Bagi masyarakat di tempat tersebut, Merapi membawa berkah material pasir, sedangkan bagi pemerintah daerah, Gunung Merapi menjadi obyekwisata bagi para wisatawan.

Gunung Merapi adalah yang termuda dalam kumpulan gunung berapi di bagian selatan Pulau Jawa. Gunung ini terletak di zona subduksi, dimana Lempeng Indo-Australia terus bergerak ke bawah Lempeng Eurasia. Letusan di daerah tersebut berlangsung sejak 400.000 tahun lalu, dan sampai 10.000 tahun lalu jenis letusannya adalah efusif. Setelah itu, letusannya menjadi eksplosif, dengan lava kental yang menimbulkan kubah-kubah lava.

Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar antara lain di tahun 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930. Letusan besar pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu. Diperkirakan, letusan tersebut menyebabkan kerajaan Mataram Kuno harus berpindah ke Jawa Timur. Letusannya di tahun 1930 menghancurkan 13 desa dan menewaskan 1400 orang.” (Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

Gempa dan Tsunami di Mentawai

Pengertian Tsunami secara umum adalah Tsunami (bahasa Jepang: 津波; tsu = pelabuhan, nami = gelombang, secara harafiah berarti “ombak besar di pelabuhan”) adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Perubahan permukaan laut tersebut bisa disebabkan oleh gempa bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut,  atau hantaman meteor di laut. Gelombang tsunami dapat merambat ke segala arah. Tenaga yang dikandung dalam gelombang tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Di laut dalam, gelombang tsunami dapat merambat dengan kecepatan 500-1000 km per jam. Setara dengan kecepatan pesawat terbang. Ketinggian gelombang di laut dalam hanya sekitar 1 meter. Dengan demikian, laju gelombang tidak terasa oleh kapal yang sedang berada di tengah laut. Ketika mendekati pantai, kecepatan gelombang tsunami menurun hingga sekitar 30 km per jam, namun ketinggiannya sudah meningkat hingga mencapai puluhan meter. Hantaman gelombang Tsunami bisa masuk hingga puluhan kilometer dari bibir pantai. Kerusakan dan korban jiwa yang terjadi karena Tsunami bisa diakibatkan karena hantaman air maupun material yang terbawa oleh aliran gelombang tsunami. Tsunami di Mentawai, Sumatera Barat pada tanggal 26 Oktober 2010 lalu terjadi akibat gempa tektonik dengan kekuatan 7,2 SR.

Hubungan Antara Bencana Gunung Meletus dan Gempa & Tsunami di Indonesia

Ada hubungan dari kedua bencana alam diatas, hubungan tersebut terletak dari pemicu terjadinya kedua bencana alam tersebut. Lalu, apa pemicu dari kedua bencana tersebut ? pemicunya adalah gerakan tektonik lempeng. Bagaimana tektonik lempeng bisa memicunya ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut diperlukan penjelasan yang runtut agar semua menjadi terlihat akan hubungan antara kedua bencana alam tersebut dengan gerakan tektonik lempeng. Pertama-tama akan dijelaskan apa itu tektonik lempeng.

“Teori Tektonika Lempeng (bahasa Inggris: Plate Tectonics) adalah teori dalam bidang geologi yang dikembangkan untuk memberi penjelasan terhadap adanya bukti-bukti pergerakan skala besar yang dilakukan oleh litosfer bumi. Teori ini telah mencakup dan juga menggantikan Teori Pergeseran Benua yang lebih dahulu dikemukakan pada paruh pertama abad ke-20 dan konsep seafloor spreading yang dikembangkan pada tahun 1960-an.

Bagian terluar dari interior bumi terbentuk dari dua lapisan. Di bagian atas terdapat litosfer yang terdiri atas kerak dan bagian teratas mantel bumi yang kaku dan padat. Di bawah lapisan litosfer terdapat astenosfer yang berbentuk padat tetapi bisa mengalir seperti cairan dengan sangat lambat dan dalam skala waktu geologis yang sangat lama karena viskositas dan kekuatan geser (shear strength) yang rendah. Lebih dalam lagi, bagian mantel di bawah astenosfer sifatnya menjadi lebih kaku lagi. Penyebabnya bukanlah suhu yang lebih dingin, melainkan tekanan yang tinggi.

Lapisan litosfer dibagi menjadi lempeng-lempeng tektonik (tectonic plates). Di bumi, terdapat tujuh lempeng utama dan banyak lempeng-lempeng yang lebih kecil. Lempeng-lempeng litosfer ini menumpang di atas astenosfer. Mereka bergerak relatif satu dengan yang lainnya di batas-batas lempeng, baik divergen (menjauh), konvergen (bertumbukan), ataupun transform (menyamping). Gempa bumi, aktivitas vulkanik, pembentukan gunung, dan pembentukan palung samudera semuanya umumnya terjadi di daerah sepanjang batas lempeng. Pergerakan lateral lempeng lazimnya berkecepatan 50-100 mm/a.”

(Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

Di Indonesia terdapat 2 jenis tektonik lempeng, yaitu lempeng benua (yaitu lempeng Eurasia) dan lempeng samudera (yaitu lempeng Indo-Australia). Batas kedua lempeng tersebut memanjang dari Pulau Sumatera, Pulau Jawa, kemudian sampai ke Pulau Sulawesi.

 

Lempeng-lempeng Tektonik Bumi

Gerakan kedua lempeng tersebut yang saling bertumbukan itulah yang menyebabkan adanya getaran yang kita kenal sebagai gempa bumi. Gerakan kedua lempeng tersebut dijelaskan melalui gambar berikut,

 

Ilustrasi penunjaman lempeng samudera terhadap lempeng benua

Dari gambar tersebut dijelaskan bahwa lempeng Indo-Australia yang merupakan lempeng samudera menghujam ke bawah lempeng Eurasia yang merupakan lempeng Benua, karena perbedaan massa jenis yakni massa jenis lempeng benua lebih besar daripada lempeng samudera. Dari gerakan lempeng itu terjadi banyak bentukan-bentukan di permukaan bumi, seperti berupa lipatan, patahan, dan sebagainya. Salah satu contoh lipatan yang dihasilkan dari tumbukan tersebut adalah gunung. Gunung tersebut bisa menjadi gunung api jika gerakan lempeng samudera menembus ke kantong-kantong magma yang ada di perut bumi, sehingga magma akan menerobos keluar melalui saluran-saluran hasil patahan dari gerakan lempeng.

 

Lempeng Eurasia (atas) dan Lempeng Indo-Australia (bawah)

Kemudian, kita menghubungkan hal tersebut dengan meningkatnya aktifitas gunung api yang ada di Indonesia. Saya memiliki pendapat tentang mengapa beberapa gunung api di Indonesia meningkat aktifitasnya hampir secara bersamaan dan melakukan erupsi dengan kekuatan yang lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya, khususnya gunung Merapi. Hal tersebut berkenaan dengan penunjaman lempeng samudera (Indo-Australia) ke kantong magma yang ada di perut bumi. Jika penunjaman lempeng tersebut bisa menembus ke kantong magma yang lebih besar atau jika penunjaman tersebut mampu membuat rekahan atau retakan yang ada sebelumnya menjadi lebih besar, maka kemungkinan jumlah magma yang keluar semakin besar sehingga itulah yang menyebabkan aktifitas vulkanisme meningkat dan lebih tinggi dari yang sebelumnya. Namun, faktor lain yang Aku yakini kebenarannya adalah penunjaman tersebut membuat tekanan perut bumi semakin besar sehingga mendorong magma yang ada di perut bumi untuk keluar seperti yang diungkapkan oleh Chris Goldfinger, ahli geologi kelautan dari Oregon State University di National Geographic, Ia mengatakan bahwa Letusan gunung berapi memang bisa saja dipicu oleh perubahan tekanan akibat gempa bumi.

Dari pembahasan diatas selalu menyinggung gerakan lempeng dan diduga itulah yang memicu terjadinya rangkaian bencana alam yang ada di Indonesia. Lalu, berdasarkan apa kita mengetahui adanya gerakan lempeng di Indonesia ? Tentu saja terjadinya gempa dan tsunami di Mentawai. Sebab tsunami terjadi didahului dengan gempa tektonik, yakni gempa yang terjadi akibat adanya gerakan dan gesekan antara dua lempeng sehingga menghasilkan getaran atau goncangan. Berdasarkan bencana Tsunami di Mentawai itulah kita mengetahui bahwa memang terjadi gerakan pada tektonik lempeng di Indonesia.

 

Read Full Post »